Satu Abad Observatorium Bosscha dan Sekilas Sejarah Astronomi di Indonesia 

Observatorium Bosscha. (Akmal Firmansyah/Jabarekpres)
Observatorium Bosscha. (Akmal Firmansyah/Jabarekpres)
0 Komentar

Mari kita kembali melihat lembaran sejarah sebagai dikatakan oleh Andrew Goss, dalam Belenggu Ilmuwan dan Pengetahuan dari Hindia Belanda sampai Orde Baru (2014), sebelum ada-nya NISV dan kemudian Observatorium Bosscha, di Hindia-Belanda (Indonesia) dulu pada tahun 1761 di Batavia (Jakarta) Pendeta J.H Mohr, membangun observatorium dengan perangkat yang diimpor dari Eropa dan mengenalkan diri sebagai astronom.

Tapi sayangnya, pemerintahan VOC pada saat itu Mohr tidak mendapatkan pengakuan sebagai ahli astronomi secara resmi dari VOC.

Namun pada 1778, salah seorang gubernur jendral J.C.M Radermacher bersimpati pada kegiatan Mohr mendirikan kelompok pelajar Bataviaasch Genootschap der Konten en Wetenschappen (Kelompok Seni dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat Batavia) yang pada awal dekade pertama berupaya menghidupkan astronomi Mohr tapi tidak terlalu berhasil.

Baca Juga:Bikin Geram, Dewan Bakal Evaluasi Pelayanan Pasien di RSUD Kota Bogor, Ini Penyebabnya!Kemeriahan Aksi Barongsai di Bogor

Walaupun tak berhasil tetapi setidaknya Radermacher sukses membuat satu jurnal serta mendirikan museum untuk menyimpan lemari penyimpanan koleksi sejarah alam.

Hal yang sama ditulis oleh Bambang Hidayat, dalam Under a Tropical Sky: a History Astronomy Indonesia, menyebut astronom di Hindia Belanda harus menunggu lebih dari tiga generasi sebelum diangkat kembali pada paruh kedua abad ke -19, setelah kematian Mohr.

Pendeta Johan Mauritz Mohr, tulis Bambang, pernah belajar teologi di Universitas Groningen dan antara 1737 dan 1775 memimpin jemaat Gereja Portugis di pinggiran Batavia.

Mohr banyak melakukan pengamatan astronomi, yang hasilnya dikomunikasikan ke Dutch Society for Sciences di Haarlem.

Tidak hanya itu, Pengamatannya mencakup dua transit Venus pada tahun 1760-an. Ia juga juga mempublikasikan hasilnya di Philosophical Transactions of the Royal Society, London.

Observatorium Mohr di Batavia itu sampai tahun 1920-an diberi nama “Gang Torong” modifikasi dara kata “toren”.

Lalu kemudian, kata Bambang, pada awal pertengahan abad kesembilan belas kegiatan ilmiah dan lembaga penelitian berdiri. Terkhusus, yang dekat dengan astronomi ilmiah adalah pendirian observatorium magnetik serta meteorologi pertama di Batavia.

Baca Juga:Universitas Adhirajasa Reswara Sanjaya Lantik 528 WisudawanKesaksian Adik Halimah, Wowon Tak Pernah Ada Sang Kakak Sakit dan Meninggal

Masih mengutip Bambang ia menyebutkan kegiatan astronomi yang berkaitan dengan survei trigonometri baru dimulai pada tahun 1821, baru pada tahun 1850-an dan kegiatan itu benar-benar menjadi kebutuhan.

0 Komentar