Satu Abad Observatorium Bosscha dan Sekilas Sejarah Astronomi di Indonesia 

Observatorium Bosscha. (Akmal Firmansyah/Jabarekpres)
Observatorium Bosscha. (Akmal Firmansyah/Jabarekpres)
0 Komentar

 

Seusai diadakan rapat lalu dilakukan penelitian, dan setelah itu didapat tempat di salah satu puncak di sekitar perbukitan Tangkuban Parahu, hadiah dari Ursone peternak sapi perah berkebangsaan Itali.

Kemudian Oktober 1922 tahap konstruksi pembangunan kompleks Observatorium mulai dilakukan. Bangunan teropong bintang yang dipesan dari Carl Zeiss Jena di Jerman dipersiapkan berdasarkan bangunan arsitek C.P Wolf Schoemaker.

Sudarsono juga menyebut, Observatorium Booscha di Lembang ini diserahkan oleh Nederlands-Indische Sterrenkundige Vereeniging – NISV (Perkumpulan Ilmu Astronomi Hindia-Belanda) ke Technische Hoogeschool te Bandoeng – sekolah tinggi teknik di Hindia Belanda (sekarang menjadi ITB). maka Booscha saat ini berada di bawah naungan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Baca Juga:Bikin Geram, Dewan Bakal Evaluasi Pelayanan Pasien di RSUD Kota Bogor, Ini Penyebabnya!Kemeriahan Aksi Barongsai di Bogor

Lalu pihak Carl Zeiss, kata Sudarsono, menyerahkan secara resmi teropong Zeiss pada NISV, pada 7 Juni 1928. Teropong yang memiliki bobot 17 ton dan panjang 11 m. Teropong ini memiliki tiga lensa dua lengan berfungsi sebagai teropong visual dan grafis, satu lagi sebagai teropong pencari. Teropong ini adalah teropong refraktor ganda dengan satu pemilikul teropong. Teropong itu berada di Planetarium Booscha.

Tidak hanya Bosscha yang umur 100 tahun, katanya, melainkan juga Planetarium Bosscha. Termasuk desain kubah planetarium yang diprakarsai di negeri Jerman.

“Nah ini terbayang bahwa pada saat itu (1923) Bosscha itu memilih design yang terkini pada zamannya, 100 tahun Bosscha dan Planetarium Bosscha. Tahun 2023 ini istimewa bagi Bosscha,” terangnya

“Merayakan 100 tahun Observatorium Bosscha adalah merayakan ilmu-ilmu pengetahuan,” tambahnya.

Premana mengajak kita berefleksi kebelakang pada tahun 1915 Albert Einstein mencetuskan teori relativitas-nya, dan Observatorium Bosscha di tahun 2015 ikut merayakannya juga, selang delapan tahun Booscha berdiri tahun 1923 dan di tahun 2023 ini Bosscha merayakan ilmu astronomi di Indonesia.

“Artinya betapa terdepan Observatorium Booscha dalam kemajuan sains, betapa ingin terlibat dalam Bosscha memajukan sains betul-betul terobosan,” beber Premana.

Ilmu astronomi ini, menurut Premana, sangat berdampak pada kehidupan manusia dari segi praktis, spiritual, dan bahkan seni.

*Sekilas Sejarah Astronomi di Indonesia Hingga Berdirinya Observatorium Bosscha*

 

0 Komentar