BANDUNG – Harga sejumlah kebutuhan pokok di Kota Bandung mengalami kenaikan signifikan. Kegiatan bazar murah yang selama ini digelar secara masif oleh Pemerintah Kota Bandung nyatanya belum mampu menekan harga agar tetap stabil. Salah satunya daging ayam yang kini mencapai Rp40.000 hingga Rp42.000 per kilogram. Kenaikan harga tersebut disinyalir terjadi seiring bergulirnya kembali program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah-sekolah setelah libur semester.
Fluktuasi harga ini tidak hanya membebani warga, tetapi juga menekan omzet pedagang di pasar tradisional. “Sejak MBG aktif lagi, harga langsung naik semua,” ujar Mang Oli, pedagang sayur dan daging ayam keliling di kawasan Cijambe, Pasir Endah, Ujungberung, Kota Bandung, Senin (10/8/2026).
Menurut Mang Oli, saat ini ia menjual daging ayam seharga Rp40.000 per kilogram. Harga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan saat libur sekolah lalu yang hanya Rp25.000 per kilogram. Pantauan Jabar Ekspres di Pasar Ujungberung, Minggu (9/8/2026), kenaikan harga tidak hanya terjadi pada daging ayam. Beras kemasan, cabai, dan sayur mayur juga mengalami kenaikan. Selain harganya yang naik, stok barang di pasaran pun terbatas.
Baca Juga:Legenda Timnas Gabung di Soekarno Cup, Komitmen Bangun Talenta Muda Sepak Bola IndonesiaGempa M 5,3 Dirasakan di Bandung hingga Sukabumi, BPBD Lakukan Pemantauan Intensif
Pedagang daging ayam lainnya, Heri, mengaku kesulitan mendapatkan keuntungan yang wajar. “Kalau cari untung saat ini susah. Yang terpenting jualan tidak rugi dan laku,” katanya saat ditemui di lapaknya.
Heri menjelaskan, sebelumnya ia menjual daging ayam seharga Rp23.000 hingga Rp27.000 per kilogram. Kini harganya melonjak menjadi Rp40.000–Rp42.000 per kilogram, atau naik sekitar 55,6 persen.Ia membeli dari tengkulak atau distributor seharga Rp37.000 per kilogram, lalu menjualnya Rp40.000 kepada pembeli. “Untungnya tidak seberapa, paling hanya menutupi modal operasional,” sebutnya.
Karena sepi pembeli dan stok terbatas, Heri terpaksa mengurangi pasokan. Jika biasanya ia menyiapkan 40 ekor ayam per hari, kini hanya 10 ekor. Banyak pembeli yang sebelumnya membeli satu kilogram kini hanya mengambil setengah atau seperempat kilogram. “Saya mendengar informasi, setiap SPPG membutuhkan sekitar 200 kilogram daging ayam setiap hari. Mereka membeli langsung ke tengkulak atau distributor, bukan ke pasar. Akibatnya stok di pasar berkurang dan harga naik,” jelas Heri.
