Strategi Pers Memaksimalkan Pendapatan Produk Digital

Editor:

BANDUNG – Hampir semua media konvensional memanfaatkan medium digital, namun tidak semua produk digital  berhasil dimonetisasi secara layak. Dalam upaya menemukan formula tentang permasalahan tersebut, Serikat Perusahaan Pers (SPS) mengadakan Workshop Series #31: Memaksimalkan Produk Digital untuk  Keberlanjutan Media, 6 Desember 2022, di Bandung, Jawa Barat.

Sebagai organisasi perusahaan pers yang menaungi lk. 600 media arus utama di seluruh Indonesia, SPS meyakini konvergensi media/pers ke arah digital adalah keniscayaan. Berbagai cara sudah dilakukan  perusahaan-perusahaan pers, seperti membuat website/portal news, masuk ke ranah media sosial, dan  lain-lain produk jurnalistik medium digital. Hampir seluruh perusahaan pers cetak, minimal memiliki  portal news sebagai upaya pengembangan bisnis dan adaptasi era digital.

Hanya saja, pada praktik menuju konvergensi digital, media masih kesulitan menemukan keseimbangan  dan kestabilan bisnis. Target pembaca produk konvensional semakin mengecil, semakin segmented.  Sementara pemasukan iklan digital masih belum bisa menggantikan iklan konvensional/print. Yang lebih  banyak menikmati kue iklan digital, justru bukan media sebagai pemilik produk.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Pemimpin Redaksi Kompas.id, mengungkapkan media – media yang  tutup saat ini bukan karena disrupsi digital, tapi karena ketidakmampuan beradaptasi dan persoalan  internal. Adaptasi digital yang dilakukan media juga sering tidak relevan. “Kalau mau menambah  pendapatan, media jangan hanya melakukan intensifikasi, lebih baik ekstensifikasi. Kami di Kompas tidak  bisa berdiri sendiri, makanya membuat kaki-kaki (produk-produk) baru, seperti Kompas.id, Kompasiana,  dll,” ungkap Tri Agung Kristanto yang juga salah satu Anggota Dewan Pers Komisi Pendidikan &  Pengembangan Profesi Pers.

Sementara itu, Agus Sulistriono, CEO Promedia yang dulunya juga mengembangkan bisnis digital di  Pikiran Rakyat Media Network, menegaskan bisnis media bisa berlanjut kalau menghasilkan profit.  Dalam konteks tersebut, media harus membuat inovasi pada empat pilar. “Inovasi pada business model,  business process, revenue model, dan creative content-nya.“

Dalam workshop yang dihadiri insan media dari berbagai daerah, juga hadir beberapa perwakilan  korporasi/brand untuk sharing tentang seperti apa produk digital media yang ramah pengiklan, serta  seperti apa harapan dan dukungan mereka untuk keberlanjutan bisnis media. Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk., Boy Kelana Soebroto, berharap Astra dapat membantu  meningkatkan strategi media dalam memaksimalkan produk digitalnya, agar melalui media dapat  memberi manfaat bagi masyarakat luas. “Diantaranya juga sharing seperti apa produk digital media yang  ramah pengiklan, serta seperti apa harapan dan dukungan kami untuk keberlanjutan bisnis media.” www.spsindonesia.org; E: [email protected] Gedung Dewan Pers Lt. 6, Jl. Kebon Sirih No. 32 – 34 Jakarta 10110; T: 021 – 3459671, 3811228; F: 021 – 3862373.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *