Endo Suanda: Den Kisot Inovasi Karya Teater Memadukan Cerita Spanyol dengan Budaya Lokal

BANDUNG – Siapa yang pernah menonton pertunjukan teater boneka Den Kisot? Den Kisot ini merupakan teater boneka yang dikemas dengan idiom wayang golek. Karya yang disutradarai oleh Endo Suanda ini diadaptasi dari novel Don Quijote de la Mancha karya Miguel de Cervantes asal Spanyol. Tanpa mengurangi unsur terpenting dari cerita awalnya, Endo Suanda begitu kreatif mengkemas karyanya agar dapat dinikmati dan dimnegerti oleh masyarakat awam.

Endo Suanda sendiri adalah seorang doktor etnomusikologi dari Universitas Washington dan juga merupakan seorang maestro. Pada hari ini Kamis, 10 November 2022, beliau menjadi salah satu pembicara pada seminar international dalam rangkaian ICAS-Fest ISBI Bandung. Bahasan yang diangkat oleh Endo Suanda lebih menitik beratkan pada etnomusikologi, konservatori, inovasi dan proses kreatif dalam pembuatan karya Den Kisot.

Entomusikolog Endo Suanda tidak serta merta berkarya sendiri. Ia di bantu oleh Goenawan Muhamad sebagai penafsir esai novel Don Quijote de la Mancha. Dalam sajian karyanya, Endo Suanda berhasil menggabungkan 3 unsur seni, yakni musik, pedalangan dan boneka kayu.

Seperti saat acara dies natalis ISBI Bandung yang ke 54 tahun 2022, Teater boneka Den Kisot di pertunjukan di gedung sunan ambu ISBI Bandung. Gelagat jenaka tokoh Den Kisot memukau semua penonton yang berada di dalam gedung. Tentunya tidak terlepas dari peran dalang yang memainkannya.

Pada seminar nasional kali ini Endo Suanda membahas peluang inovasi dan proses kreatif yang tidak instan. Dalam konteks ini Endo Suanda sebagai sutradara ingin mengembangkan kreativitas diri dengan tujuan agar terciptanya kreasi baru yang lebih menarik, kekinian dan memiliki daya jual tanpa menghilangkan unsur kedaerahan atau tradisi yang  sudah melekat pada kesenian tersebut.

Endo Suanda berkata “Saya hanya berusaha menjadi seniman untuk membuat karya sebagus mungkin.” Ia menjelaskan sedetail mungkin awal dari pemilihan komposer musiknya, dalang atau penutur ceritanya, hingga penata artistiknya.

Meski memakai idiom wayang golek, namun musik yang digunakan adalah musik universal memakai alat music modern, seprti gitar, kajon, bass, flute. Bahkan pemakaian golek ataupun boneka kayunya sangat berbeda dari wayang golek konvensional. Tidak ada gugunungan yang menjadi ciri khas pagelaran wayang golek.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan