Berpacu Waktu

BANYAK daerah segera punya rumah sakit vertikal. Yang di Surabaya mulai dibangun kemarin. Mengapa Surabaya belum punya RS vertikal? Apakah RS yang ada selama ini horizontal?

Predikat vertikal yang dimaksud ternyata untuk menandakan itu ”milik pemerintah pusat”. Disebut vertikal bukan karena bangunannya tingginya sekali. Tapi untuk menegaskan bahwa itu bukan RSUD Provinsi dan RSUD Kabupaten.

Di Jakarta ada 8 rumah sakit vertikal –ini istilah baru bagi saya. Besar-besar. Tapi kota besar seperti Surabaya tidak ada satu pun RS vertikal. Padahal Yogyakarta, Bandung, Medan, dan Makassar punya. Masing-masing satu.

RSUD dr Soetomo yang besar itu ternyata milik Pemprov Jatim. Maka ketika terjadi wabah Covid-19, pemerintah pusat tidak punya tangan langsung di Jatim.

Pun ketika wali kota Surabaya, ketika itu Tri Rismaharini, mengalami kesulitan melayani korban Covid. Dia tidak bisa mengandalkan fasilitas pusat.

Anda pun ingat drama di tengah Covid itu: Risma ndelosor tengkurap di lantai sambil menangis seru: bermohon-mohon kepada direktur RSUD dr Soetomo untuk membantu dirinyi mengatasi Covid di wilayahnyi.

Risma pun mendesak pusat untuk membangun rumah sakit di Surabaya. Risma memberikan info ke pusat: ada tanah 5 hektare di pusat kota Surabaya. Nganggur. Bisa dimanfaatkan untuk itu.

Saya tahu lokasi yang dimaksud. Di Jalan Indrapura. Siapa pun yang ke Tanjung Perak lewat jalan itu. Di awal-awal saya masuk Surabaya, lokasi itu dikenal sebagai rumah sakit kulit dan kelamin.

Rupanya tidak banyak lagi yang sakit kulit. Di masa lalu sakit kulit adalah penyakit rakyat. Saya pun tidak henti-hentinya sakit kulit. Di masa kanak-kanak sampai remaja. Saya sebutkan itu bukan untuk riya’.

Pun sakit kelamin. Sudah jarang terdengar. Sipilis sudah bisa diatasi dengan mudah. Bahkan sudah bisa dicegah. Rupanya penyakit kelamin sudah berubah dari sakit fisik ke sakit nonfisik.

Bangunan-bangunan RS kulit dan kelamin itu masih ada. Peninggalan Belanda. Tapi tidak difungsikan lagi. Jadi cagar budaya. Ketika Covid lagi puncak-puncaknya, halaman lokasi ini dimanfaatkan untuk RS tenda darurat.

Kementerian Kesehatan memutuskan untuk membangun RS vertikal di situ. Besar sekali. Modern sekali. Tiga tower. Masing-masih berkapasitas sekitar 230 tempat tidur.

Tiap tower beda spesialisasi. Ada tower untuk jantung. Ada tower untuk otak/stroke. Ada tower untuk kanker. Ini seperti gabungan RS Harapan Kita, RS Pusat Otak Nasional (PON) dan RS Dharmais. Tiga-tiganya di Jakarta.

Fasilitas untuk tiga jenis penyakit itu disiapkan yang terbaik di dunia saat ini. Mulai dari alat-alatnya sampai ruangan dan teknologinya. MRI-nya, misalnya, yang kelas 3 Tesla. Memang RS baru punya keuntungan tersendiri: bisa membeli peralatan yang terbaru.

“Pertengahan 2024 RS vertikal ini sudah harus jadi. Bapak Presiden Jokowi yang akan meresmikannya,” ujar Budi Gunadi Sadikin, menteri kesehatan yang melakukan groundbreaking kemarin.

Biaya pembangunannya mencapai Rp 1,4 triliun. Belum termasuk peralatan yang mutakhir. Bagian depan RS Kulit dan Kelamin dipertahankan sebagai cagar budaya. Bisa untuk museum kesehatan.

Menkes akan membangun RS Vertikal di banyak daerah: Kupang (NTT), Jayapura (Papua), Ambon (Maluku), Makassar, dan Bangka. “Agar tidak semua RS Vertikal menumpuk di Jakarta,” ujarnya.

Melihat gambar RS Tiga Tower itu saya membayangkan tidak akan kalah dengan RS di negara-negara maju. Tentu salah satu tujuannya memang untuk itu: mengurangi warga yang berobat ke luar negeri. Yang kalau ditotal menghabiskan uang lebih Rp 100 triliun/tahun.

Rabu kemarin Menkes juga ke Unair. Ada Dies Natalis ke-68 universitas itu. Menkes pun curhat di forum itu: begitu sulit menambah dokter spesialis di negeri ini. Tiap tahun hanya bisa tambah puluhan dokter. Padahal diperlukan tambahan 3.000 dokter/tahun.

Selesai acara Dies Natalis, menkes makan siang di ruang wakil rektor Unair Djoko Santoso. Rektor Unair Prof Mohammad Nasih juga ikut di ruangan itu. Awalnya ia satu-satunya rektor yang terpilih secara aklamasi. Pun untuk periode keduanya. Ia seorang guru besar akuntansi. Juga seorang ulama. Belakangan Arif Satria juga terpilih secara aklamasi sebagai Rektor IPB.

Di meja makan itu ada bebek Sinjay dan sambal mangganya. Ada garangan ayam dengan kuahnya. Ada rujak cingur dengan sambal petisnya. Menkes terlihat makan tiga-tiganya. Mulutnya terus mengunyah. Telinganya terus mendengarkan tanggapan para tokoh Unair. Sesekali dahinya mengerut. Sesekali tawanya meledak.

Ia dapat dukungan Unair untuk memperbanyak spesialis itu. Sebaliknya Menkes juga mendukung upaya mengatasi kekurangan tenaga di RS Unair –rumah sakit baru di kampus itu yang sifatnya rumah sakit pendidikan.

Sudah menjadi pembicaraan publik soal sulitnya menambah dokter spesialis ini. Para dokter spesialis juga sudah tahu itu. Pimpinan fakultas kedokteran juga sudah mendengar penilaian yang paling negatif sekali pun. Tapi belum ada pemerintahan yang berhasil menerobos ini. Maka Presiden Jokowi menjadikan itu sebagai salah satu tugas pokok menkes. Berarti harus berhasil.

Budi berpacu dengan waktu.(Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Edisi 9 November 2022: Toilet Muda

Nugroho Dwis Sugiharto

Kalau di jogja, mall yg toiletnya terbaik adalah Hartono Mall yg sekarang jadi Pakuwon Mall, plusnya lagi didalam Mall ada mushola dengan standard bintang lima, luar, bersih, rapi. Masjid kampung saya saja kalah

Thamrin Daffan

Benar sekali Toilet menjadi indikator utama bagaimana kepedulian kebersiahan suatu pelayanan publik. Seandainya anda akan menilai suatu instansi pemerintaha apakah pelayanan publiknya akuntabel dan transparansi maka lihatlah bagaiman kondisi toiletnya. Artinya bila toiletnya bersih, harum, nyaman dan enak di gunakan maka boleh dikatakan kebersihan di lingkungan instansi itu boleh dikatakan baik, bersih dan asri. Telat bangun waktu jadi kepepet / Berangkat kerja pun tergesa gesa Coba perhatikan kebersihan toilet / Apabila bersih baguslah kinerja / salamsalaman

Lagarenze 1301

Entah mengapa, di toilet saya kerap menemukan jalan keluar dari suatu masalah. Otak sudah mentok, tidak tahu mau bikin apalagi, eh… ketika buang air kecil muncul ide-ide yang brilian. Mungkin karena dalam prosesi “pelepasan” itu otak menjadi rileks dan bisa berpikir lebih tenang. Atau bisa saja ada hormon atau enzim khusus yang ikut terlepas sehingga otak bekerja lebih cespleng. Saya juga termasuk orang yang sering menghabiskan waktu lebih lama di toilet dengan aktivitas membaca koran. Kok betah ya, padahal ada bau yang tidak biasa. (Eh, bukan ding, sekarang bukan lagi bawa koran masuk toilet, melainkan gadget) Tentu, kebiasaan mencari ide tersebut hanya berlaku jika toilet bersih. Lain hal kalau pesing, apalagi banyak jejak yang tertinggal, waduh…. Mohon maaf bagi yang punya kebiasaan baca disway sambil sarapan. Maaf.

Mbah Mars

PERESMIAN TOILET UMUM Terdengar suara MC, “Acara selanjutnya, yang kita tunggu-tunggu, adalah peresmian toilet umum. Peresmian toilet ditandai dengan pengguntingan pita dan pemakaian pertama oleh Bapak Camat. Kepada Bapak Camat dipersilahkan. Setelah pidato ba bi bu yang diawali dengan kata sodara-sodara, akhirnya Pak Camat menggunting pita. Selanjutnya pemakaian pertama. Pak Camat masuk ke toilet. Beberapa menit kemudian Pak Camat keluar dengan wajah cengar cengir. tepuk tangan hadirin membahana. Plok plok plok…

 

Ady Ngaki

Saya ke toilet kuta kebetulan kemarin, bagus rapi bersih, tapi sayang cuci kaki aja ditarikin 3000 ????

Amat Kasela

Selamat pagi Bapak2 yang di toilet suka main hape, atau sambil baca Disway. Di toilet jangan lama2, bukan tempat tongkrongan. Wkwkwkwk

Er Gham

Kalau bertemu dengan pengendara mobil di jalan tol yang kebut kebutan dan slap-slip bawa mobilnya, agar dimaklumi. Kita berprasangka baik saja. Mungkin dia kebelet cari rest area.

Everyday Mandarin

Satu kesempatan juga di Beijing, saya pernah sengaja nginap hotel traditional kecil di hutong (lorong² khas Beijing). Dikelola anak muda China. Bentuk bangunannya khas Forbidden City. Pingin tahu rasanya jadi masyarakat era feodal China. Pas keluar lorong, saya kebelet kencing krn lg winter. Mau balik hotel lagi rasanya agak jauh. Mampirlah sy ke toilet umum di lorong tsb. Yg digunakan warga setempat. Pas sy lg BAK, sy tengok ada 1 anak kecil (cowo) yg sedang BAB di toilet. Tanpa pintu, joroknya khas China. Masih awal² Revolusi Toilet Xi Jinping. Si anak lalu teriak, “妈,好了 Ma, hao le” (Ibu, sudah selesai). Si Ibu yg berdiri di luar pun masuk. Saya sangat tertarik dengan apa yg akan dilakukan di Ibu. Baru kali itu saya tertarik melihat org lain BAB. Ibunya ambil kertas koran(!) lalu ngelap² pantat anaknya. Selesai. Mrk keluar. Ga cuci tangan. Pantas Xi Jinping merevolusi mrk.

Leong putu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *