JabarEkspres.com, KATAPANG – Warga Desa Gandasari, Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung, ambil sikap atas ramainya dugaan pencabulan terhadap santriwati.
Sekretaris Desa Gandasari, Budi Rosadi, mengaku bahwa warganya sangat resah karena adanya dugaan pencabulan di wilayahnya tersebut.
“Sebetulnya itu bukan pondok pesantren, tapi majelis dzikir dan majelis selawat,” kata Budi saat ditemui belum lama ini.
Baca Juga:Kurangi Ketergantungan BBM dan LPG, Pakar dari ITB Sarankan Pemerintah Lakukan Elektrifikasi Moda Transportasi dan Subsidi Pembelian Kompor ListrikFamily Fun Walk Jadi Cara PKS Jabar Ringankan Beban Masyarakat
Dia mengatakan, keresahan warganya itu karena anak-anak di lingkungan dekat Majelis Dzikir dan Majelis Solawat Riyatul Jannah, kerap mengikuti kegiatan mengaji.
“Memang aktivitasnya itu dari magrib sampai jam 20.00 (WIB) malam, pengajian biasa aja belajar mengaji anak-anak,” ujarnya.
Budi mengakui, tak jarang orang tua yang sempat menitipkan anaknya mengaji itu kini mulai ketakutan dan gelisah, sebab khawatir sang buah hatinya turut ikut jadi korban.
“Wajar saja khawatir, takut anaknya jadi korban juga, walaupun sampai sekarang belum ada nama korban yang muncul,” ucapnya.
Keresahan warga pun mulai memunculkan sikap, kini para orang tua sengaja tidak memperbolehkan anaknya melakukan pengajian.
“Kita pihak desa imbau supaya tidak jadi gaduh, akhirnya sepakat kita menolak aktivitas majelis untuk sementara waktu, anak-anak juga enggak boleh ngaji dulu,” imbuhnya.
Dikatakan Budi, aktivitas majelis tersebut sudah mulai sepi sekiranya sejak satu pekan ke belakang.
Baca Juga:Di Sisa Jabatan Kang Emil, DPRD Jabar Minta Perhatikan Infrastruktur dan Sarana Pendidikan di PerbatasanDishub Jabar Akan Lakukan Rekayasa Lalu Lintas di Ruas Jalan Jakarta, Sukabumi, dan Ahmad Yani, Ini ketentuannya
“Orang tua sekarang sebetulnya mulai khawatir juga untuk menitipkan anak ke pesantren, enggak hanya di sini tapi ke tempat lain,” tutur Budi.
Dia mengaku, majelis dzikir yang saat ini diduga jadi saksi bisu pencabulan itu, sejak awal berdiri sempat mendapatkan penolakan warga.
“Soalnya pesantren, bukan. Tapi speaker-nya jadi saling keras dengan milik masjid di belakang, sempet ditolak tapi akhirnya pak haji (pemilik majelis) membuka pengajian anak, itu jadi salah satu mulai ada penerimaan dari warga,” paparnya.
Sementara itu, salah seorang warga RW05, Desa Gandasari, Ivan, menyampaikan bahwa dirinya merasa bahwa keramaian dugaan pencabulan membuat nama wilayah menjadi buruk.
“Citra desa jadi jelek, padahal belum tentu benar juga ada korban, buktinya sampai sekarang enggak ada korban yang muncul,” paparnya.
