Jabar Quick Response dan Sang Broadcaster Of Daily Happiness Ridwan Kamil

Segala capaian hal baik di atas hari ini runtuh! Melihat Kang Emil sendirian mencari Eril. Setengah badan masuk ke sungai. Rasanya saya lemas. Rasanya tidak berdaya. Rasanya saya tidak berguna.

Padahal setiap orang hilang (yang juga laporannya masuk ke Kang Emil) di Jawa Barat langsung kang Emil berikan atensi khusus. Langsung diresponse. Langsung dikerahkan warga dan alat negara untuk membantu.

Bahkan, sehari sebelum kabar kejadian Eril hanyut. Saya berkomunikasi dengan kang Emil  untuk meminta dukungannya: JQR akan menyelenggarakan pelatihan water rescue bersama komunitas dan warga sekitar objek wisata Situ Bagendit.

Karena banyaknya wisata dan potensi resiko yang mungkin ditimbulkan. Kang Emil pun tanpa banyak kata langsung mendukung. Seperti biasanya.

JQR pada saat pertama mendengar hilangnya Eril di Sungai Aare Swiss langsung berkoordinasi dan menggelar rapat dengan mengundang Basarnas, WANADRI, dan para ahli-penggiat olahraga arus deras.

Basarnas pun dari awal sudah berkoordinasi dengan pihak/otoritas di Swiss melalui Kemlu untuk meminta permit (izin) untuk turut melakukan pencarian Eril. Hanya belum diizinkan oleh otoritas setempat.

Kami membongkar sejumlah peta sungai Aare dan menganalisa semuanya. Menyiapkan berbagai metode operasi. Membangun skenario mobilisasi personel. Dan lain-lain. Kami tidak mau diam saja!

Di sisi lain kami juga membangun komunikasi dengan pihak keluarga dan provinsi jabar. Memberangkatkan team SAR Jabar/ Indonesia ke luar negeri bukan hal mudah. Diperlukan koordinasi lintas negara.

Setidaknya itu yang saya alami ketika diminta Kang Emil berangkat ke Nepal tahun 2015 lalu untuk mencari warga Bandung yang hilang saat mendaki di Langtang Pegunungan Himalaya.

Sampai hari ini kami belum berhasil mendapatkan hasil terbaik dari ikhtiar ini.

Kini… Sang Broadcaster of daily happiness itu bersedih. Melakukan ikhtiarnya sendiri bersama keluarga dan sedikit kerabat yang turut ikut di Swiss.

Doa-doa pun masih dilantunkan warga dari masjid ke masjid. Dari pengajian satu ke lainnya. Dari warga lainnya yang mencintai pemimpinnya dan keluarganya.

Sulit untuk belajar meneladani kesabaran dan ketabahan Kang Emil dan Teh Lia juga keluarganya. Kami remuk se remuk-remuknya.

Kang Emil dan Teh Lia: mohon maafkan saya atas segala ketidakmampuan saya.

Semoga Allah SWT selalu merahmati dan melindungi Kang Emil beserta keluarga.

Untuk Eril: kami mengenangmu sebagai pemuda baik dan berbakti. Arungilah sungai keabadian itu dengan rasa damai disertai cinta kasih Tuhan, Allah SWT. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.