JABAR EKSPRES – Pemerintah tampaknya bakal memberikan jalan bagi pihak swasta untuk pembukaan pabrik etanol di Indonesia. Hal itu sejalan dengan pernyataan Direktur Jenderal Energi Bari, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi di Jakarta, Senin.
Menurutnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka peluang bagi swasta membangun pabrik etanol, demi mencapai target mandatori pencampuran bioetanol 20 persen ke dalam bensin E20 pada 2028.
“Jadi swasta itu boleh dan sangat kita dorong untuk dia bisa menghasilkan pabrik-pabrik (bioetanol) itu,” ujarnya, dikutip Selasa (21/7/2026).
Baca Juga:Nobar Piala Dunia 2026, Menteri Maman: Momen Penggerak Ekonomi DaerahPercepat Swasembada Gula, Mentan Siap Wujudkan dalam Dua Tahun?
Bahkan, ia menuturkan bahwa rencana tersebut juga mendapat dukungan dari pemerintah. Melalui pembahasan revisi Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol Sebagai Bahan Bakar Nabati.
Melalui revisi aturan tersebut, kata dia, pemerintah akan mengatur kembali kapasitas pencampuran (blending) etanol dengan bahan bakar minyak.
“Terus soal kapasitas, masalah blending itu di revisi Perpres 40 juga kita tambahkan Jadi kemarin, hari ini juga saya perintahkan nanti kita komunikasi dengan Kemenko (Bidang) Perekonomian karena prakarsanya revisi perpres di sana,” paparnya.
Eniya menuturkan bahwa, revisi aturan blending BBM dengan etanol tersebut disesuiakan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
Dia menilai, pembangunan fisik pabrik etanol kemungkinan tidak memakan waktu lama, hanya dalam kurun waktu 1,5 tahun.
Namun, Eniya mengakui bahwa pembangunan yang cepat juga harus dilengkapi dengan kesiapan dan ketersediaan bahan baku lokal.
“Nah, tinggal bahan bakunya. Bahan bakunya kalau bangun pabrik itu 1,5 tahun bisa bangun, tetapi bahan bakunya (juga harus dipersiapkan dengan matang),” kata dia lagi.
Baca Juga:Merawat Sejarah Mengenang Legenda: AZA Rilis Persebaya Pre Season Jersey 2026 Berkonsep Tribute to Eri IriantoCegah Tragedi Terulang, Polres Tasikmalaya Perketat Ramp Check Angkutan Umum dan Barang
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto berencana untuk menambah jumlah pabrik etanol di Indonesia, membangun setidaknya 30 sampai dengan 50 pabrik sebagai upaya untuk mengembangkan bahan bakar minyak (BBM) dengan campuran etanol.
Presiden Prabowo pada Jumat (17/7) menyampaikan bahwa Indonesia saat ini sudah dapat melakukan pencampuran bensin dengan etanol hingga tingkat 20 persen atau E20.
“Tadi para petugas mengatakan kita bisa sampai E20. Butuh pabrik, tadi pabriknya yang baru kita miliki baru satu pabrik. Tadi saya putuskan kita akan bangun minimal 30 pabrik, kalau perlu sampai 50 pabrik,” kata dia.
