Infeksi di kalangan petugas rumah duka juga menjadi tantangan besar, kata direktur pemakaman lain, Hades Chan (31 tahun).
“Hampir seperempat orang tak bisa bekerja, Jadi beberapa rumah duka harus menggabungkan staf agar tetap beroperasi.”
Kate, ibu rumah tangga berusia 36 tahun, mengatakan kematian bapak mertuanya akibat Covid pada Maret membawa emosi besar di keluarganya. Hal yang paling disesalinya adalah tak bisa menengok sang mertua di rumah sakit.
Baca Juga:PPKM level 2, Pemkot Bandung Tegaskan Pemudik Harus Sudah Vaksin Dosis 3BRI Raih 4 Penghargaan dalam DIGITECH Awards 2022
“Ketika mereka bilang dia tak bisa bertahan lagi, kami bergegas ke sana, tapi sudah terlambat,” kata dia, yang hanya memberikan satu nama, kepada Reuters sambil berusaha menahan tangis di upacara pemakaman.
“Baru kali ini kami bisa melihatnya untuk terakhir kali.”
China memasok lebih dari 95 persen kebutuhan peti mati Hong Kong yang mencapai 250-300 buah per hari, kata pejabat pangan dan kesehatan kota itu, Irene Young.
Dia menerima lebih dari 3.570 peti mati pada 14-16 Maret, setelah otoritas setempat berkoordinasi dengan pemerintah pusat China.
Enam krematorium kini beroperasi hampir 24 jam untuk menangani hampir 300 jenazah per hari, dua kali lipat dari biasanya.
Kamar-kamar mayat untuk publik telah diperluas agar bisa menampung 4.600 jenazah dari kapasitas sebelumnya yang hanya 1.350, kata otoritas.
Lembaga swadaya masyarakat Forget Thee Not telah bermitra dengan pembuat peti mati ramah lingkungan LifeArt Asia untuk mendonasikan 300 peti mati dan 1.000 kotak penyimpanan ke enam rumah sakit umum.
Setiap peti dibuat dari papan serat kayu daur ulang dan mampu menahan beban hingga 200 kg. Bahan pengawet seperti serbuk berubah menjadi gas ketika dimasukkan ke dalam peti atau kantong untuk menjaga kondisi jenazah hingga selama lima hari.
Baca Juga:Miris, Meski Ramadan ABG Nekad Open BO, Polisi Amankan 22 Orang dengan Bukti Kondom BerserakanDaging Sapi Mahal, Antisipasi Pedagang Nakal Oplos dengan Baging Babi, Begini Cara Membedakannya
“Kita berada di tengah badai,” kata kepala eksekutif LifeArt Asia, Wilson Tong. “Dan di tengah badai, kami berusaha memberi jeda untuk beristirahat.” (fin/rit)
