Kelompok Islamofobia PEGIDA Berencana Barbekyu-an Babi di Depan Masjid Belanda saat Ramadhan

Kelompok Islamofobia PEGIDA Berencana Barbekyu-an Babi di Depan Masjid Belanda saat Ramadhan
Kelompok Islamofobia PEGIDA Berencana Barbekyu-an Babi di Depan Masjid Belanda saat Ramadhan. Sumber Foto: ANEWS.com
0 Komentar

Kedutaan Besar Turki di Hague juga telah menyerukan agar agar umat Islam di tempat tidak mendatangi acara PEGIDA itu dan khususnya tidak boleh terprovokasi dan tidak boleh ada kekerasan.

Walikota Eindhoven John Jorritsma juga sudah melarang rencana aksi PEGIDA itu seperti pada tahun 2019 silam.

Pemimpin PEGIDA di Belanda Edwin Wagensveld menyebut bahwa rencana aksi itu akan ditentang oleh pemerintah lainnya sebagaimana Walikota Jorritsma.

Baca Juga:Gelar Barbekyu-an di Depan Masjid Belanda, Kelompok Islamofobia Hendak Meledek Umat Islam yang BerpuasaKelompok Islamofobia Berencana Mengusik Puasa Umat Islam di Belanda

Jorritsma tidak ingin mengizinkan aksi PEGIDA itu demi alasan-alasan keamanan. Ketika menyoroti bahaya perpecahan dan kekerasan, ia menyebut bahwa dirinya tidak akan membiarkan mereka melakukan aksi provokatif.

“Saya tidak akan membiarkan orang-orang datang berdemonstrasi demi provokasi sehingga membuat kekacauan di kota saya. Berani-beraninya kalian datang ke sini untuk barbekyu babi selama Ramadan,” ungkap Jorritsma.

Perkara Islamofobia di Eropa terus menerus mendapatkan momentum untuk eksis.

Ia merupakan isu hak asasi manusia yang masih terus bergulir hingga sekarang, di belakang isu rasisme, kesetaraan gender, perubahan iklim, dsb.

Organisation of Islamic Cooperation (OIC) mendefinisikan Islamofobia sebagai kombinasi dari kebencian, ketakutan, dan prasangka terhadap Islam, terhadap umat Muslim, serta terhadap semua yang terkait dengan agama, seperti Masjid, pusat-pusat peribadatan Islam, Al-Qur’an, Hijab, dll.

Islamofobia juga merupakan kebencian, stigmatisasi, rasisme dan diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari, di media-media massa, di tempat kerja, di bidang politik, dll.

Ia ada dalam pikiran dan tercermin dalam sikap, dan dapat dimanifestasikan melalui tindakan kekerasan, seperti membakar masjid, merusak properti, melecehkan perempuan berhijab dan bercadar, atau menghina Nabi, tokoh-tokoh Muslim yang dijunjung tinggi, atau simbol suci Islam. Ia juga dapat tercermin melalui perspektif, pernyataan, perilaku, dan gestur.

0 Komentar