Kelompok Islamofobia PEGIDA Berencana Barbekyu-an Babi di Depan Masjid Belanda saat Ramadhan

Editor:

Jabarekspres.com — Kelompok Islamofobia yang berbasis di Jerman dikabarkan akan melakukan aksi yang tidak menyenangkan bagi umat Islam di Belanda yang sedang melaksanakan puasa.

Gerakan ekstrimis bersemangat anti-imigrasi dan anti-Islam yang dikenal sebagai PEGIDA telah mengumumkan bahwa mereka telah merencanakan acara pesta barbekyu dengan memanggang daging babi di depan mesjid-mesjid Belanda sepanjang bulan Ramadhan. (Baca di sini)

Organisasi-organisasi Islam di Belanda meminta otoritas-otoritas yang berwenang mengambil kebijakan untuk melarang aksi barbekyu-an babi dari kelompok konservatif-ekstrimis itu.

Seiring permasalahan pandemi Covid-19 yang sudah adem seperti sekarang, itu artinya bagi mereka tidak ada halangan untuk mengadakan acara yang mereka sebut sebagai “Ramadan Barbecue Tour”, atau “Wisata Barbekyu Ramadhan”.

“Kami akan memulai lagi acara itu (barbekyu-an babi) yang sebelumnya dilarang dengan dalih kesehatan,” PEGIDA menyatakan, dikutip dari 247 News Bulletin, Jumat (01/04/2022).

Mereka akan memasak daging babi di depan masjid-masjid di kota-kota yang berbeda di Belanda selama bulan puasa berlangsung.

Kelompok Islamofobia itu telah mengirimkan permohonan pada pemerintah setempat untuk mengizinkan acara yang mereka sebut sebagai “Ramadan barbecue (BBQ) tour”.

Berikut ini merupakan kota dan masjid-masjid yang direncanakan pesta daging babi itu digelar:

April, 5: Schiedam HDV Muradiye Mosque
April, 6: Eindhoven Al – Fourqaan Mosque
April, 7: Enschede Selimiye Mosque
April, 8: Almelo Masjid Mosque
April, 9: Eyub Sultan Mosque in Nijmegen

“Kami mengundang siapa pun yang ingin bersenang-senang bersama-sama menentang fasisme Islam,” dalam pernyataan PEGIDA, yang direncanakan akan berlangsung pada 07:00 malam waktu setempat.

Dalam pernyataan yang dibuat PEGIDA tersebut juga terdapat suatu klaim yang menyatakan bahwa “nilai-nilai Barat telah terkikis selama bertahun-tahun akibat Islam dan para imigran”.

PROVOKASI

Organisasi-organisasi Islam di Belanda langsung bereaksi dengan menyebut rencana PEGIDA itu sebagai “provokasi”.

The Consultative Council of Dutch Turks (IOT),
suatu organisasi payung bagi kelompok-kelompok yang berbasis Turki, menyebut bahwa Pegida “ingin memprovokasi insiden-insiden dan mencari perhatian publik dengan mengadakan aksi-aksi yang menghina para Muslim”.

Presiden IOT Zeki Baran mengatakan bahwa ia akan meminta pemerintah masing-masing kota yang akan dijadikan tempat acara PEGIDA tersebut. Ia menyebut bahwa itu akan mengganggu umat Islam yang sedang berpuasa.

Kedutaan Besar Turki di Hague juga telah menyerukan agar agar umat Islam di tempat tidak mendatangi acara PEGIDA itu dan khususnya tidak boleh terprovokasi dan tidak boleh ada kekerasan.

Walikota Eindhoven John Jorritsma juga sudah melarang rencana aksi PEGIDA itu seperti pada tahun 2019 silam.

Pemimpin PEGIDA di Belanda Edwin Wagensveld menyebut bahwa rencana aksi itu akan ditentang oleh pemerintah lainnya sebagaimana Walikota Jorritsma.

Jorritsma tidak ingin mengizinkan aksi PEGIDA itu demi alasan-alasan keamanan. Ketika menyoroti bahaya perpecahan dan kekerasan, ia menyebut bahwa dirinya tidak akan membiarkan mereka melakukan aksi provokatif.

“Saya tidak akan membiarkan orang-orang datang berdemonstrasi demi provokasi sehingga membuat kekacauan di kota saya. Berani-beraninya kalian datang ke sini untuk barbekyu babi selama Ramadan,” ungkap Jorritsma.

Perkara Islamofobia di Eropa terus menerus mendapatkan momentum untuk eksis.

Ia merupakan isu hak asasi manusia yang masih terus bergulir hingga sekarang, di belakang isu rasisme, kesetaraan gender, perubahan iklim, dsb.

Organisation of Islamic Cooperation (OIC) mendefinisikan Islamofobia sebagai kombinasi dari kebencian, ketakutan, dan prasangka terhadap Islam, terhadap umat Muslim, serta terhadap semua yang terkait dengan agama, seperti Masjid, pusat-pusat peribadatan Islam, Al-Qur’an, Hijab, dll.

Islamofobia juga merupakan kebencian, stigmatisasi, rasisme dan diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari, di media-media massa, di tempat kerja, di bidang politik, dll.

Ia ada dalam pikiran dan tercermin dalam sikap, dan dapat dimanifestasikan melalui tindakan kekerasan, seperti membakar masjid, merusak properti, melecehkan perempuan berhijab dan bercadar, atau menghina Nabi, tokoh-tokoh Muslim yang dijunjung tinggi, atau simbol suci Islam. Ia juga dapat tercermin melalui perspektif, pernyataan, perilaku, dan gestur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.