JABAREKSPRES – Sebagian besar layanan online memiliki sistem keamanan bawaan yang memberikan peringatan ketika mendeteksi aktivitas “tidak biasa” di akun kita, apapun itu. Termasuk berbagai pemberitahuan dari media sosial (medsos) yang biasa kita gunakan sampai layanan email populer. Namun, tahukan Anda bahwa ada modus Phishing melalui notifikasi palsu yang masuk di perangkat yang Anda gunakan?
Notifikasi atau pemberitahuan tersebut biasanya berisi imbauan untuk mengatur ulang nomor telepon dan alamat email yang ditautkan ke akun, hingga kata sandi. Sebetulnya ini lumrah bagi mereka yang cukup aktif di berbagai platform digital.
Sayangnya, karena dianggap biasa, hal ini kemudian dianggap sebagai kesempatan besar oleh para pelaku kejahatan siber. Para penjahat dunia maya dengan gigih meniru mekanisme ini untuk menyerang para pengguna baik perorangan atau korporat yang secara keuntungan memang lebih besar.
Baca Juga:Penyintas Covid-19 Berisiko Mengalami Gangguan Mental pada 16 Bulan SetelahnyaTenda Jokowi dan Para Pejabat Dibeli Saat Gempa Poso, Intip Juga Fasilitas Tambahannya
Kaspersky menjelaskan tentang bagaimana phishing dengan skema notifikasi atau pemberitahuan palsu ini digunakan oleh para pelaku kejahatan siber. Salah satu yang paling bisa dikenali adalah penyerang layanan online publik, mereka biasanya akan melakukan segala upaya untuk membuat salinan tepat seperti pesan yang sebenarnya.
Namun, jika penyerang mencari akses ke sistem internal, mereka sering kali harus menggunakan imajinasi mereka karena ketidaktahuan tentang bagaimana penampilan email yang seharusnya. Biasanya, seluruh isi pesan di email ini terlihat tidak beraturan, mulai dari penggunaan bahasa yang salah hingga logika yang tampak meragukan.
Ini ditunjukkan dengan menautkan nomor telepon baru dan sekaligus cara mengirim kode pengaturan ulang kata sandi. Alamat email support juga tidak memberikan kredibilitas pada pesan, misalnya seperti anjuran yang tak beralasan mengapa email support harus ditempatkan di domain asing.
Para penyerang berharap bahwa korbannya merasa khawatir akan keamanan akun mereka dan mengklik tombol merah “DON’T SEND CODE”. Setelah itu, mereka akan diarahkan ke situs web yang meniru halaman login akun dan selanjutnya para penyerang hanya mencuri kata sandi mereka.
Akun email yang dibajak kemudian dapat digunakan untuk serangan tipe BEC (business email compromise) atau sebagai sumber informasi untuk serangan lebih lanjut dengan menggunakan rekayasa sosial.
