Penyintas Covid-19 Berisiko Mengalami Gangguan Mental pada 16 Bulan Setelahnya

JABAREKSPRES – Mereka yang pernah terkena COVID-19 dalam setahun terakhir, berisiko mengalami masalah kesehatan mental, demikian hasil sebuah penelitian.

Bagi mereka yang sempat terbaring di tempat tidur, satu pekan lamanya, atau menunjukan infeksi serius akibat paparan corona, berpotensi mengalami gangguan kecemasan dan depresi, 16 bulan setelah pertama kali dinyatakan positif COVID-19.

Menurut sebuah studi yang dirilis pada jurnal Lancet Public Health ini, via The Sun (15/3) menunjukkan banyak pasien dengan kriteria di atas, melaporkan masalah gangguan tidur, dan stress berkepanjangan.

Semakin hebat efek COVID yang dirasakan waktu itu, maka efeknya terhadap mental eks penderita COVID-19 pun semakin berat.

Mereka dengan kriteria di atas, disebut menunjukan tingkat kecemasan yang lebih tinggi, dibandingkan dengan orang yang tidak pernah kena COVID sama sekali.

Menurut author studi, Profesor Unnur Anna Valdimarsdóttir, “Penelitian ini adalah yang pertama kali diilakukan, untuk mengeksplorasi gejala kesehatan mental 16 bulan pasca terkena COVID”.

Menurut studi ini, besar kecilnya efek terhadap kesehatan mental eks pasien COVID, akan berbeda-beda antara satu dan lainnya.

Temuan Lain

Menurut temuan para ahli dari Unversity of Oxford, ditemukan bahwa mereka yang terpapar COVID, menunjukan penyusutan ukuran pada otak mereka.

Efeknya dari penyusutan otak ini, adalah penurunan kemampuan orang untuk berpikir, akibat terganggunya fungsi kognitif pada otak.

Dari studi itu, ditemukan bahwa hanya dalam empat bulan setelah terpapar, penyusutan otak terjadi, dengan frekuensi yang lebih cepat dibandingkan mereka yang tidak pernah terpapar corona.

Efek yang sama juga ditemukan pada mereka yang terpapar COVID meski tanpa gejala, atau yang dikenal dengan sebutan asimtomatik.

Para ahli sendiri tidak begitu mengerti mengapa penyusutan otak terjadi lebih cepat, pada mereka yang terpapar corona.

Namun menurut mereka, hal ini mungkin ada hubungannya dengan gejala jangka panjang COVID, pada mereka yang terpapar. (Fin-red)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan