Orang-orang yang sempat bersembunyi di bawah tanah pun kecil kemungkinan bisa bertahan sebab akan sangat minimnya oksigen dan tak mungkin bisa bertahan lama menghirup racun karbon monoksida dari hasil ledakan nuklir tersebut.
Radiasi yang sangat mematikan
Ledakan dahsyat nuklir itu kemudian menyebarkan radiasi mematikan. Selain mencemari lingkungan sekitar, ia juga membunuh dan menyebabkan kecacatan. Radiasi nuklir itu dapat menyebabkan kerusakan genetik dan memicu penyakit kanker, epidemi, dan penyakit-penyakit kronik lainnya.
Kota-kota akan hancur lebur
Melansir New York Post, seorang ahli bernama Alan Robock dari Universitas Rutgers menyebut peristiwa Hiroshima-Nagasaki merupakan contoh nyata di mana bom nuklir bisa meremukkan kota-kota menjadi puing-puing.
Baca Juga:Muhaimin Ingin Pemilu 2024 Ditunda, Suvei LSI: Masyarakat Menolak!Persib Melawan Persiraja, Pelatih Maung Bandung: Jangan Lengah!
“Nuklir dengan daya ledak sebesar 15 kilotons yang meletus di Hiroshima itu menyapu dan membakar apapun dalam skala radius luas serta menumpahkan asap tebal,” ungkapnya.
Melansir nature.com, Senin (16/03/2021), seorang fisikawan atmosfer dari Universitas Colorado dan sempat menjadi murid dari seorang fisikawan terkenal Carl Sagan, Brian Toon, menyebut bahwa skenario terburuk dari peperangan nuklir adalah: senjata maut itu dapat merenggut 21 juta nyawa melayang.
Menyebabkan iklim yang sangat ekstrim
Dalam hasil penelitian bertajuk “Nuclear Winter: Global Consequences of Multiple Nuclear Explosion” para ilmuwan memprediksi bahwa cuaca yang sangat ekstrim akan menyusul setelah senjata nuklir meledak.
Ledakan bom nuklir akan meninggalkan asap yang sangat tebal, menutup kota-kota dari sinar matahari, lalu membuat planet bumi mengalami pendinginan ekstrim selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Menyebabkan gagal panen secara massal
Langit gelap dan cuaca yang sangat dingin mengakibatkan sistem pasokan pangan pun ambruk secara massal. Cuaca yang sangat ekstrim itu membuat tanaman-tanaman tidak lagi bisa menghasilkan kebutuhan pangan seperti beras, jagung, dan gandum.
Bahkan menurut Deepak Ray, seorang peneliti ketahanan pangan dari Universitas Minnesota, di St Paul, perang nuklir dalam skala kecil pun dapat dapat menghancurkan sistem ketahanan pangan global.
Kelaparan di mana-mana
Kegagalan panen secara massal itu akan membuat orang-orang kelaparan. Seorang peneliti dari Goddard Institute for Space Studies, New York, bernama Jonas Jägermeyr pernah merilis laporan bertajuk “A regional nuclear conflict would compromise global food security” di Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America.
