Daya Beli di Tengah Pandemi COVID-19 Turun, Angka Stunting Naik

ILUSTRASI: Stunting merupakan kasus dimana kondisi anak lebih pendek dari anak lainnya seusianya.
ILUSTRASI: Stunting merupakan kasus dimana kondisi anak lebih pendek dari anak lainnya seusianya.
0 Komentar

CIMAHIKasus stunting di Kota Cimahi terus mengalami kenaikan di tengah pandemi COVID-19. Turunnya daya beli masyarakat untuk pemenuhan gizi anak disinyalir jadi salah satu penyebabnya.

Tahun 2020, Dinas Kesehatan Kota Cimahi mencatat jumlah balita stunting mencapai 3.520 jiwa, atau 10,89 persen dari total balita yang mencapai 32.327 jiwa di Kota Cimahi.

Namun jumlahnya naik tahun 2021 menjadi 3.786 balita atau 11,78 persen dari total 32.139 balita di Kota Cimahi. Data terbaru itu yang terhimpun hingga Februari 2021.

Baca Juga:Lebih Pilih Airlangga-Prabowo di 2024, Natalius Pigai Bilang Begini kepada AniesTerapkan People First, BRI Gelar Program Vaksinasi Gotong Royong untuk Karyawan dan Keluarganya

“Kalau dari 2020 angkanya memang naik. Tapi datanya belum divalidasi semuanya sama petugas kesehatan,” terang Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Indah Gilang Indira saat ditemui, Rabu (2/6).

Dikatakannya, data tersebut dihimpun dari para kader di lapangan. Namun ketika data yang masuk meragukan, kata Indah, biasanya akan dilakukan validasi ulang oleh petugas kesehatan.

Namun, validasi yang dilakukan petugas kesehatan dikaui Indah kurang maksimal ditengah pandemi COVID-19 ini.

“Kalau ada yang meragukan biasanya divalidasi. Dilihat lagi apakah memang benar segitu (ukuran tubuh). Pandemi gak maksimal validasi,” sebut Indah.

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan kurangnya asupan gizi. Akibatnya, ukuran tubuh anak menjadi lebih rendah atau pendek dibandingkan anak seusianya.

“Stunting dilihat dari berat badan, tinggi badan ada standarnya. Enggak sesuai ukuran rata-rata, itu yang namanya stunting,” jelas Indah.

Kepala Bidang Bina Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Dikke Suseno Isako mengatakan, gagal tumbuh hingga menyebabkan stunting pada balita dikarenakan asupan gizi yang tidak maksimal, anemia pada ibu, hingga memiliki komorbid seperti TBC.

Baca Juga:Kunjungi Lapas Bekas Sukarno Dipenjara, Ini Harapan Tri RismahariniDiperpanjang Kembali, PPKM Mikro di Cimahi,  Begini Penjelasan Ngatiyana

“Sebelum ibu mengandung suka anemia, terus ada penyakit penyerta misal TBC kronis. Tapi Kebanyakan anemia dan asupan gizi,” beber Dikke.

Kondisi ibu saat mengandung nantinya akan berpengaruh pada anak saat dilahirkan.

“Pas lahir itu biasanya berat lahirnya rendah. Jadi harus diberi asupan gizi yang baik,”sambungnya.

Maka, agar anak tidak terlahir stunting, pencegahan harus dilakukan sejak ibu mengandung. Dari mulai asupan gizi yang baik, dan memeriksakan kehamilan minimal empat kali ke dokter atau fasilitas kesehatan lainnya.

0 Komentar