Betapa indahnya bila kita memiliki sifat tawadhu kepada orang lain. Dia tidak ubahnya seperti cahaya yang dikelilingi kupu-kupu yang berterbangan di sekelilingnya. Betapa besarnya kekuatan tawadhu pada diri manusia, sehingga ia mampu menyihir kita semua untuk berbondong-bondong cenderung kepada orang yang tawadhu. Mereka tidak ubahnya seperti orang-orang yang tengah berada dalam sebuah taman, lalu melihat bunga mawar yang indah dengan berbagai warna dan meniupkan bau harum yang semerbak.
Jika kita pernah berjalan-jalan pada malam bulan purnama di tepi kolam atau genangan air. Ketika itu kita menyaksikan betapa gambar bintang memantul di atas permukaan air dengan penuh ketawadhuan dan keagungan, padahal jarak bintang tersebut dari bumi sedikitnya ribuan tahun cahaya.
Jika kita pernah menyaksikan kumpulan asap yang naik ke langit. Saksikanlah bagaimana mereka naik ke langit dengan penuh kesombongan. Bagaimana mungkin asap dapat dibandingan dengan bintang.?
Baca Juga:Oded: Alhamdulilah di Kota Bandung Aman dan Terkendali Tidak Ada Takbiran KelilingArsenal Kalahkan Chelsea 1-0, The Gunners Nodai Catatan Rekor Tuchel
Dalam hal ini seorang penyair berkata dalam sebuah syairnya: Bersikaplah tawadhu, niscaya kamu menjadi seperti bintang, yang nampak di permukaan air bagi orang yang melihatnya, padahal dia tinggi. Dan jangan engkau menjadi seperti asap, yang mengangkat dirinya ke ketinggian angkasa, padahal dia rendah.
Al-Barra bin Azib r.a. berkata, “Pada saat persiapan Perang Ahzab, Rasulullah Saw. turut memindah-mindahkan pasir (hasil penggalian parit yang dimaksudkan sebagai benteng pertahanan) bersama-sama kami. Saya melihat keikutsertaan beliau tersebut dengan mata kepala sendiri. Saya juga menyaksikan bagaimana tanah telah mengotori bagian perut dari jubah beliau.
Rasulullah Saw. selalu mengulurkan tangan mengajak bersalaman kepada setiap orang, baik orang kaya maupun orang miskin, anak-anak maupun orang dewasa, orang yang berkulit hitam maupun berkulit putih. Beliau selalu mendahului dalam mengucapkan salam. Jika beliau diundang, walaupun oleh orang yang asing, beliau pasti memenuhi undangan tersebut.
Tidak pernah beliau menghina makanan yang dihidangkan di dalam undangan, walaupun hanya sepotong roti atau segelas air.
Tawadhu (rendah hati) termasuk pilar penting dalam pergaulan dengan sesama kita. Dengan tawadhu, seseorang dapat masuk ke dalam hati manusia dan memperoleh kecintaan mereka.
