“Project pertama tembus hingga 400 paket padahal persiapannya kurang dari seminggu. Ini omset yang cukup fantastis bagi kami yang baru memulai bisnis hampers kala itu dari sana kami melihat bahwa bisnis ini cukup punya peluang di masa depan,” kata Dimursi.
Berbeda dengan penyedia hampers lain, Box Bahagia hanya menawarkan kebutuhan untuk masyarakat muslim saja seperti sajadah, buku dzikir yang dipadukan dengan kue kering, tumbler atau peralatan makan lainnya.
“Mungkin ini value yang berbeda yang kami tawarkan kepada masyarakat. Dengan adanya Box Bahagia, kita bisa mengganti sarana silahturahmi yang dianjurkan dalam Islam, karena pandemi tetap bisa dilakukan dengan berkirim hadiah. Jadi walau raga tak berjumpa tapi tetap saling menunjukkan kasih sayangnya,” kata Dimursi.
Baca Juga:Reborn Gelar Ramadan Charity Berikan Bantuan untuk Bandung Zoological GardenAntusiasme Warga Sambut Disneyland yang Kembali Buka
Dimursi mengatakan tahun lalu omset Box Bahagia mencapai Rp130 juta, padahal saat itu tokonya terbilang masih sangat baru.
Harga yang ditawarkan pada paket hampers Box Bahagia cukup bervariasi mulai dari Rp95 ribu – Rp1,250 juta.
Strategi dagang
Karena bisnis hampers sedang naik daun, tentu Atnic Project dan Box Bahagia memiliki banyak pesaing di bidang yang sama.
Dina mengatakan saat ini Atnic Project berusaha untuk konsisten berpromosi melalui media sosial, menyebarkan lewat grup WhatsApp hingga promosi dari mulut ke mulut.
“Biasanya mereka yang di grup suka ikut bantu promosiin. Kemarin sempat ada yang mesen jauh-jauh juga kayak dari Bogor sampai Kalimantan,” kata Dina.
Sementara itu, Box Bahagia memiliki strategi untuk mengeluarkan tema dan desain yang berbeda di tiap musim. Berbeda dari kebanyakan produk hampers yang terlihat elegant, Box Bahagia seperti namanya tampil dengan desain yang ceria dan dengan warna warna yang cerah.
“Selain itu kami fokus pada produk-produk yang memiliki nilai pakai tinggi dan bisa digunakan ulang. Begitu pula dengan packaging-nya. Oleh karena itu penggunaan tas bambu, tas kanvas, bahkan kotak kayu menjadi pilihan karena bisa digunakan ulang,” ujar Dimursi. (Antaranews)
