oleh

Lahan Kering Primer di Jabar Merosot 300 Ha Per Tahun

BANDUNG – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat (Jabar) Setiawan Wangsaatmaja menyebutkan, dari tahun 2000 sampai 2020 Jabar mengalami perubahan tutup lahan yang sangat drastis.

“Berkurangnya hutan lahan kering primer seluas 300 hektare per tahun, hutan lahan kering sekunder seluas 1.224 hektare per tahun, perkebunan seluas 943 hektare per tahun, dan area persawahan berkurang seluas 1.912 hektare per tahun,” kata Setiawan di Kota Bandung, Minggu (11/4)

Baca Juga:  Jelang Libur Lebaran, Disbudpar Kota Bandung Siapkan Rapid Test di Tempat Wisata

Tak hanya itu, permasalahan RTRW Jabar juga diperparah dengan bertambahnya pertanian lahan kering campur seluas 7.444 hektare per tahun, pertanian lahan kering seluas 1.901 hektare per tahun, serta pemukiman/bangunan seluas 7.822 hektare per tahun.

“Kami akan rapat karena inilah permasalahan kami di daerah yang dihadapi saat ini,” ucapnya.

Menurutnya, guna dapat menyelesaikan masalah ketidaksesuaian batas daerah. Diperlukannya sosialisasi Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2021 tentang Penyelesaian Ketidaksesuaian Tata Ruang, Kawasan Hutan, Izin dan/atau Hak Atas Tanah.

Baca Juga:  Jelang Idul Fitri, UMKM Rengginang di Kabupaten Bandung Acapkali Kebanjiran Orderan

“PP Nomor 43 Tahun 2021 akan dapat menyelesaikan masalah ketidaksesuaian batas daerah, ketidaksesuaian RTRW Provinsi beserta turunannya, ketidaksesuaian garis pantai, ketidaksesuaian rencana tata ruang laut, serta kelembagaan dan tata ruangannya,” hematnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan data Global Urbanization, kata Setiawan, 65 persen populasi dunia akan tinggal di perkotaan pada 2045. Menurutnya, situasi berpotensi terjadi di Jabar.

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga