oleh

Peringatan Hari Film Nasional, Momentum Optimisme Insan Film Berkarya di Tengah Pandem

JAKARTA – Hari Film Nasional diperingati setiap 30 Maret, sebagai momentum dan pengingat bahwa film Indonesia harus terus berkembang dan semakin maju seiring perkembangan jaman.

30 Maret, yang ditetapkan sebagai Hari Film Nasional, merupakan tanggal yang sama dengan hari pertama pengambilan gambar film “Darah dan Doa” karya Umar Ismail pada tahun 1950.

“Darah dan Doa” disebut sebagai film pertama yang disutradarai oleh orang Indonesia, begitu juga dengan para kru yang terlibat. Film ini merupakan film nasionalis dan dinilai sebagai film lokal pertama yang bercirikan Indonesia.

Semangat Usmar Ismail dalam memproduksi film pertama di Indonesia pada 1950 pun bisa menjadi sebuah pengingat bagi para insan film untuk tetap berkarya di masa pandemi COVID-19. Sehingga perayaan Hari Film Nasional tidak hanya menjadi sebuah ritual tahunan saja.

 

Optimisme insan film

Di Hari Film Nasional ini, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pun sangat optimistis industri film tanah air akan kembali normal seperti sedia kala, di mana masyarakat dapat menonton film-film Indonesia di bioskop tanpa rasa takut.

“Saya atau Mas Menteri (Sandiaga Uno) selalu optimis bahwa industri film akan balik normal, pariwisata bangkit, orang mulai ramai datang, bisa traveling. Karena orang mulai jenuh di rumah tapi protokol kesehatan harus tetap dijalankan,” ujar Direktur Industri Kreatif, Film, Televisi, dan Animasi Kemenparekraf Syaifullah Agam kepada ANTARA, Selasa, (30/3).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga