Hebat, Ekonomi Kreatif Jawa Barat Berpotensi Lebarkan Sayap Ekspor Lebih Luas

Hebat, Ekonomi Kreatif Jawa Barat Berpotensi Lebarkan Sayap Ekspor Lebih Luas
Atalia Praratya/ doc. Tim Humas Jabar
0 Komentar

BANDUNG – Potensi Provinsi Jawa Barat untuk terus mengembangkan kegiatan ekspor terbuka lebar.

Jawa Barat dinilai memiliki segudang sumber daya yang mampu dimanfaatkan dengan baik dalam membantu menggerakkan roda perekonomian nasional.

Berpusat pada usaha menengah kecil dan mikro (UMKM), Ketua Deskranasda Provinsi Jawa Barat, Atalia Praratya menyampaikan bahwa ekonomi kreatif (Ekraf) merupakan salah satu yang paling berpotensi.

Baca Juga:HIPMI Jabar Salurkan Dana Kredit ke PetaniPeserta SBMPTN 2021 Melonjak, LTMPT Tambahkan Kuota

“Ekraf Jabar menyumbang sekitar 34% dari Ekraf nasional. Sektor ini merupakan salah satu potensi bagi Jawa Barat saat sektor manufaktur turun,” ujarnya dalam webinar Peluang Ekspor Produk Jawa Barat ke Amerika Serikat, Selasa (30/3).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sektor kuliner merupakan salah satu potensi ekspor terbesar bagi Jawa Barat.

“Potensi ekraf Jawa Barat yang tertinggi itu kuliner 71,72 persen. Disusul fashion 17,77 persen, dan kriya 6,62 persen,”papar Atalia.

Istri dari Gubernur Jawa Barat tersebut menjelaskan mengenai strategi pengembangan ekonomi kreatif di Jawa Barat.

Kemudian, dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa penguatan kualitas dan kuantitas SDM di Jawa Barat merupakan fondasi utama untuk membangun ekosistem yang canggih dengan memanfaatkan teknologi.

Dengan begitu, nantinya kelembagaan Ekraf Jabar yang bersinergi dan berkolaborasi dapat menangani masalah pengangguran. Sehingga akhirnya menuju pada sektor pariwisata untuk pemerataan dan pertumbuhan ekonomi.

Angka ekspor Jawa Barat sendiri saat ini merupakan yang tertinggi di Indonesia, dengan pertumbuhan ekspornya di angka plus 7,9.

Baca Juga:Gawat, Pengangguran Usia Produktif di Kota Bandung Malah MeningkatNadiem Makarim: Pembelajaran Tatap Muka Sudah Bisa Dimulai

Hal tersebut juga terlihat dari Index Recovery Mobility yang mengalami peningkatan dari asalnya 48 persen menjadi 50 persen. (MG7)

0 Komentar