Pengamat Pendidikan Menilai SKB Tiga Menteri Terkesan Diliberalisasikan

Editor:

BANDUNG – Pengamat Kebijakan Pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Cecep Darmawan angkat bicara soal polemik Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri.

Dia menilai seharusnya Pemerintah mendorong para siswa melaksanakan ajaran agamanya masing-masing di sekolah dan di luar sekolah sebagai bentuk pengamalan ajaran agama.

Cecep mengatakan, Pemerintah harusnya mendorong anak didik untuk berpakaian sesuai syariat agama masing-masing sebagai perwujudan Sila Pertama Pancasila, bukan malah terkesan membiarkan.

“Iya, harus mendorong itu walaupun tidak boleh dipaksakan. Didorong, bukan malah terkesan diliberalisasikan. Pendidikan itu adalah mendidik supaya anak menjadi baik, namanya praktek keagamaan sekolah itu bagian dari pendidikan karakter itu,” kata Cecep saat dihubungi, Jumat (5/1).

Tak hanya itu, dia mempertanyakan bahwa apakah seragam sekolah itu harus diatur oleh Pemerintah Pusat? Bukankan pendidikan SD, SMP, SMA itu sudah diotonomikan?

Menurutnya, kalau Pemerintah Pusat punya kewenangan mengatur tentang seragam, maka seharusnya bersifat pengaturan umum berupa prinsip-prinsip dasar misalnya seragamnya yang sopan, rapi, dan tidak melanggar etika.

“Selebihnya itu kewenangan daerah mau batik, mau bentuknya apa, itu kewenangan daerah, diberikan ke daerah,” ucapnya.

Cecep menjelaskan, seharusnya sekolah memfasilitasi bagaimana anak tumbuh berkembang dengan menjalankan syariat agama sesuai keyakinan agamanya masing-masing.

“Muslim mau pakaian identitas muslim silahkan, begitupun siswa yang beragama lainnya silahkan sesuai ajaran agamanya masing-masing, dan itu dijamin oleh konstitusi,” jelasnya.

“Pemerintah dan sekolah harusnya mendukung sepenuhnya kepada para siswa untuk mengenakan pakaian sesuai ajaran agamanya masing-masing. Yang gak boleh itu memaksakannya,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.