Salah Pola Tanam, Penyebab Banjir Bandang Kertasari

Salah Pola Tanam, Penyebab Banjir Bandang Kertasari
GOTONG ROYONG: Warga Desa Cibeureum Kecamatan Kertasari dibantu Petugas Damkar, BPBD Kabupaten Bandung bergotong royong membersihkan lumpur di jalan pasca terjadinya banjir bandang.
0 Komentar

KERTASARI – Banjir bandang yang terjadi di Desa Cibeureum Kecamatan Kertasari pada hari Jum’at (6/12) lalu, diakibatkan salahnya pola tanam pertanian di wilayah tersebut. Walau tidak menimbulkan korban jiwa, bencana tersebut membuat warga ketakutan dan direpotkan pasca kejadian.

Menanggapi bencana tersebut, Bupati Bandung H. Dadang M. Naser mengatakan, kejadian di Kertasari bukan sekali dua kali saja terjadi. Oleh karena itu, Ia meminta seluruh masyarakat memahami asal muasal terjadinya bencana tersebut.

”Perilaku membuang sampah sembarangan,  perusakan hutan dan gunung sebagai penampung air hujan, akibatnya jadi banjir. Ayo kita sama-sama perbaiki, agar bencana serupa tidak terulang dan terulang lagi,” katanya disela-sela peninjauan lokasi pasca bencana di Kertasari, kemarin (8/12).

Baca Juga:BMKG Mencatat Curah Hujan Belum MerataLestarikan Budaya Lokal di Era Gempuran Digital

Dadang menjelaskan, selain banjir, bencana longsor atau pergeseran tanah juga terjadi setiap tahun di Kabupaten Bandung. Pihaknya merasa prihatin dan kecewa, dengan adanya lahan dengan kemiringan dan ditepi jurang masih ditanami sayur mayur. Dengan demikian, Ia mengimbau para petani setempat, agar mengatur pola tanamnya dengan baik.

”Tanah di pinggir gawir (jurang) masih ditanami sayur mayur seperti bawang. Saya minta pada saat melakukan penanaman, jangan serakah. Sisakan satu setengah meter untuk kepentingan terasering, tanam sabuk gunung  dengan tanaman keras, ini untuk menghindari longsor,”tuturnya.

Dadang mengakui, beberapa wialayah di Kabupaten Bandung masih ada pola tanam yang belum baik. Tak hanya wilayah Kertasari, di kawasan Puncak Bintang Kecamatan Cimenyan ada hal yang sama. Oleh karena itu, pihaknya terus berupaya untuk membebaskan sekitar tujuh hektar lahan, untuk mencegah longsor di kawasan kertasari.

”Kalau lahan dibebaskan, kami bisa mengatur pola tanam, tapi luasannya terbatas. Infrastruktur jalan di Kertasari sudah kami mantapkan, demi meningkatkan perekonomian masyarakat juga. Jadi saya harapkan saat musim tanam sekarang, cabuti bawang yang di pinggir jalan sekitar 2 jengkal, korbankan untuk keselamatan di masa yang akan datang, buat terasering dan sabuk gunung dengan tanaman keras,” tegasnya.

Salah satu warga Kertasari Eef (46) mengatakan setia musim hujan, banjir bandang selalu terjadi di Cibeureum Kertasari. Pasalnya, petani sayuran semakin merambah ke Bukit Pasir Munding, sehingga hutan gundul tidak ada resapan untuk menahan air. ”Akibat Hutan gundul, sehingga terjadi banjir bandang, memang tidak ada korban jiwa, namun ada dua kendaraan roda dua hanyut terbawa air,”jelasnya.

0 Komentar