Apalagi, selama ini mereka kerap sulit mendapatkan literatur tentang Indonesia di Ukraina, negeri yang dulu merupakan bagian dari Uni Soviet. Jangankan dalam bentuk fisik buku, versi e-book berbagai karya sastra Indonesia juga tak mudah didapat.
Salah satu cara menyiasatinya adalah menonton film yang mengadaptasi karya sastra Indonesia. ”Persoalannya, kadang ada selipan bahasa daerah yang tentu saja tak kami pahami,” ungkap Yarkovska.
Belajar langsung ke Indonesia tentu saja juga memperkaya kosakata bahasa lisan mereka. Kata “keren” tadi salah satunya. Juga, kata-kata berawalan “ng” seperti ngobrol atau ngomong.
Baca Juga:Industri Jamu Butuh PembinaanPolisi Bakal Selidiki Pemicu Bencana
Itu sebagai bentuk latihan karena bunyi “ng” pada umumnya susah mereka kuasai. Sebab, tidak ada dalam bahasa Ukraina. Baik sebagai awalan, sisipan, maupun akhiran.
Di luar itu, Buchkova terus terkenang akan keramahan orang Indonesia. Murah senyum dan hangat. Sesuatu yang tidak setiap hari ditemuinya di Ukraina.
Adapun Yarkovska, dia menyebut orang Indonesia kurang doyan jalan kaki. Lebih suka naik becak, sepeda motor, atau alat transportasi lain. Meski untuk jarak yang tak jauh sekalipun.
Sedangkan Melnyk sangat menikmati bonus belajar bahasa Indonesia di Jogjakarta: sekaligus belajar bahasa Jawa.
”Matur nuwun, ora popo, sami-sami,” ujarnya ketika saya tes apa kosakata dalam bahasa Jawa yang dikuasainya.
Tiap pelajaran dalam kelas, bahasa Indonesia para mahasiswa memang biasanya formal. Mungkin itu bentuk kedisiplinan mereka dalam belajar. Kalau di luar kelas, baru keluar keren, ngobrol, atau ngomong yang tadi.
Tahu saya lahir, besar, kuliah, dan bekerja di Surabaya, mereka juga beberapa kali bertanya banyak hal tentang boso Suroboyoan. Para mahasiswa yang pernah ke Indonesia umumnya tahu bahwa bahasa Jawa ala Surabaya lebih kasar. Mereka juga tahu orang-orang Surabaya dan Jawa Timur lebih terbuka dan berani. Hanya, saya tak tahu apakah mereka tahu umpatan khas Surabaya, hehehe.
Baca Juga:KPK Bidik Anggota DewanPolda Jabar Tahan Sekda Tasik
Para mahasiswa Ukraina yang ditempatkan di Jawa, khususnya Jogjakarta, juga berkesempatan belajar tari-tarian Jawa. Menurut mereka, gerakan tari-tarian Jawa yang halus tidak susah dikuasai.
