Setelah lulus master dari Australia pada 2015, Jaka dan beberapa teman membangun Luminosity Training Consultant dengan tujuan meningkatkan kesadaran HRD (human resources department) perusahaan agar memasukkan faktor disabilitas. Itu klop dengan UU Penyandang Disabilitas yang dikeluarkan tahun berikutnya. Yakni UU 8/2016 yang mewajibkan 1 persen pekerja perusahaan swasta dari difabel, sedangkan BUMN 2 persen. Jaka kemudian pindah ke Ayo Inklusif! karena melihat visi pemberdayaan difabel yang kuat.
Jaka sebenarnya bukan penyandang tunanetra sejak lahir. ”Saya waktu kecil melihat dunia ini remang-remang atau low vision,” kenang Jaka. Namun, dia suka putar-putar naik sepeda bersama teman-teman sebayanya. Dia sering jatuh karena tak melihat ada gundukan.
”Saya dianggap nakal oleh orang tua. Bersepeda seenaknya sendiri,” tuturnya, lalu tersenyum. Padahal, putra Berry Biswari itu benar-benar tak bisa melihat.
Baca Juga:Klaim Mudahkan Perizinan Bagi InvestorPenmas Miliki Arti Penting
Setelah sekian lama, dia baru menyadari bahwa orang lain melihat dunia dengan lebih terang. Dia memakai kacamata. Namun, kacamata itu hanya sedikit membantu pandangannya. Tingkat low vision-nya makin lama makin buruk.
Kalau semasa SD remang-remang melihat, saat SMP mulai remang plus buta warna, ketika SMA dia sudah sulit membaca. Lalu, saat duduk di perguruan tinggi, dia sudah hampir tak bisa baca-tulis serta sulit mengenali wajah orang.
”Saya memaksa tes ke Universitas Sahid, membaca naskah dengan susah payah. Akhirnya lulus tes,” tutur Jaka.
Namun, hambatan berikutnya datang ketika beberapa dosen mengetahui bahwa Jaka tak bisa membaca saat diberi ujian tulis. Ketika minta perpanjangan waktu ujian, Jaka tak diberi.
”Tapi, saya memaksa diri, dibantu teman-teman. Misal, saya ngetik sebisanya untuk skripsi, lalu diedit oleh teman-teman. Alhamdulillah lulus,” katanya. Saat studi S-2 ke Flinders, dia sudah benar-benar buta. Syukurlah, di sana kampusnya lebih ramah buat difabel. (*/rie)
