Haikal pun membentuk kelompok volunter bernama Jeumpa Puteh Disaster Prevention Club untuk melancarkan aksinya. Berdiri sejak 2016, kelompok bentukan Haikal itu berhasil merekrut 47 anggota hingga sekarang. Kegiatan utama kelompok tersebut adalah memberikan pelatihan penyelamatan diri kepada siswa-siswi SMA bila terjadi bencana.
”Misalnya, saat ada gempa, kamu berlindung di mana. Kalau terjadi tsunami, naik ke tempat yang tinggi dan menjauh dari laut. Kami juga mengajarkan teknik pertolongan pertama,” jelas Haikal sembari sedikit memperagakan aksinya.
Berkat aksi positifnya tersebut, Haikal sampai menjadi salah seorang tamu undangan dalam acara World Tsunami Awareness Day yang diselenggarakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Baca Juga:Mau Jadi PNS, Anak Gubernur pun Harus Lulus TesKembalikan Kejayaan Destinasi Wisata Fashion
Meski aksinya telah menuai banyak apresiasi, Haikal masih membumi dan waspada. ”Belajar dari tsunami Aceh pada 2004, kita tahu bencana bisa datang kapan aja. Saya memang tidak bisa menghentikan bencana, tapi bisa membantu meminimalkan akibat dari bencana tersebut,” tuturnya.
Mengajar di Perbatasan Indonesia-Malaysia
Lain Haikal, lain pula yang dialami Jessica Pratiwi Yahya, Alpha Zetizen of the Year asal Kalimantan Barat ini. Kisah bermula sejak kepindahan orang tuanya dari Kota Pontianak ke Kabupaten Bengkayang pada Juli 2015.
Bengkayang terletak di barat Kalimantan dan berbatasan langsung dengan wilayah Malaysia. Pindah dari ibu kota Provinsi Kalimantan Barat menuju daerah terpencil, segalanya tentu tidak mudah bagi Jeje, sapaannya.
Jeje memperhatikan anak-anak yang tinggal di daerah tersebut. Dia merasa tertegun melihat perbedaan dengan anak-anak yang tinggal di Kota Pontianak.
”Aku ngelihat pengetahuan dan wawasan anak-anak di perbatasan juga terbatas. Apalagi, orang tua anak-anak itu kurang perhatian dengan pendidikan dan masa depan anak mereka,” ungkap Jeje miris.
Rasa empati tersebut kemudian dia wujudkan dengan menjadi relawan pengajar. Mata pelajaran yang diberikan beragam. Ada matematika, bahasa Indonesia, dan ilmu pengetahuan alam (IPA).
Bukan tanpa hambatan, Jeje sempat mengalami mental breakdown saat mengajari anak-anak tersebut. ”Hari pertama ngajar, aku sempat nangis. Mereka selalu kabur dan sembunyi di balik pohon,” kenang Jeje.
Baca Juga:Aher Ingin Jabar Aware Terhadap Ikan Patin7.000 Guru Honorer Terima SK
Hampir menyerah, Jeje akhirnya mendapatkan suntikan semangat dari sang mama yang dulu berprofesi guru. Setelah itu, Jeje rutin menyelipkan hal-hal yang menyenangkan dalam mengajar. Misalnya, menonton film, serta mengajarkan tari-tarian hingga musik. Hasilnya cukup positif. Anak-anak tersebut lebih enjoy dalam belajar.
