oleh

Demi Menebus Dosa Masa Lalu

Pada 2009, setelah program dari Gilang dan Pelangi tuntas, Ikhwan menggelar kegiatan mandiri dan swadaya bersama KNSB. Mereka fokus konservasi seperti menanam terumbu karang dan mangrove sepanjang Pantai Bangsring.

”Dulu awal kami mulai, di Bangsring kawasan konservasi terumbu karang hanya 1,5 hektare yang terumbu karangnya paling rusak. Sekarang area konservasinya 15 hektare,” katanya.

KNSB juga menawarkan berbagai fasilitas bagi nelayan yang mau bergabung menyelamatkan lingkungan. Di antaranya, membantu pengurusan izin penangkapan ikan. Kemudian, memproteksi para nelayan dari potensi pungli oleh sejumlah oknum.

Ikhwan dkk juga membuat program marine education di sekolah-sekolah. ”Kami urunan untuk beli alat tulis, permen, atau yang lain untuk menarik minat para siswa,” ujarnya.

Dalam beberapa tahun, kondisi kawasan terumbu karang semakin sehat. Ikan-ikan mulai berdatangan kembali. Bahkan, ikan langka seperti rhinopias yang per ekornya bisa dihargai Rp 500 ribu-Rp 1 juta dan angelfish muncul.

Begitu pula ikan badut atau yang sering disebut ikan nemo. Mereka bermunculan sepanjang waktu setelah hanya muncul di waktu tertentu.

Pendapatan dari pariwisata juga diputar terus. Dalam dua tahun, omzetnya membengkak. ”Omzet kami rata-rata per bulan Rp 500 juta,” tuturnya.

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga