oleh

Demi Menebus Dosa Masa Lalu

Cara apa pun, yang pasti korban terbesarnya adalah terumbu karang. Terumbu karang rusak, ikan-ikan pergi. Menyusutnya jumlah ikan mengakibatkan nelayan Bangsring harus mencari lokasi perburuan baru yang jauh. Di Jember, Malang, Lombok, Manado, Makassar, bahkan Papua.

Tapi, sedikit demi sedikit, berkat kegigihan Ikhwan dan kawan-kawannya di Kelompok Nelayan Samudera Bakti (KNSB), mindset itu dapat diubah. Para nelayan Bangsring kembali ke cara menangkap ikan hias dengan jala. Hanya dengan sedikit modifikasi.

Bukan dengan menebarnya dari atas kapal atau perahu. Melainkan dengan menyelam. Dengan mengandalkan arus laut.

”Jadi, misalnya arus mengarah ke barat, satu orang menunggu di sisi barat terumbu karang dengan jaring dan satu orang lainnya menghalau ikan dari timur. Kalau ikannya nyantol di jaring, baru diambil,” terang Ikhwan.

Dampaknya luar biasa. Terumbu karang berhasil pulih dan hasil tangkapan ikan melonjak. Bangsring pun tumbuh sebagai kawasan bina wisata berbasis konservasi.

Atas semua kerja keras itu, Kemarin (2/8), di Jakarta, Ikhwan, mewakili kelompoknya, pun dianugerahi penghargaan Kalpataru dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Untuk kategori Penyelamat Lingkungan.

”Darah daging saya sejak kecil dari ikan hias yang ditangkap pakai potas. Sekarang saya diberi kesempatan menebus dosa masa lalu itu,” kata Ikhwan yang pernah terpilih sebagai nelayan teladan tingkat nasional (2015) dan pemuda pelopor dari Kemenpora (2013) itu.

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

Baca Juga