Hampir setiap hari, sejak pukul 07.00, ratusan warga negara asing (WNA) dari berbagai negara antre di pintu belakang menara Ravindo, Jalan Kebon Sirih. Kantor perwakilan UNHCR berada di lantai 14 gedung tersebut. Tidak hanya dari Afghanistan, hari itu yang antre berasal dari Pakistan, Iraq, Iran, Ethiopia, Somalia, dan Myanmar. Mereka mengurus dokumen agar mendapat status pengungsi. Surat dokumen itulah yang nantinya dibawa untuk meminta suaka ke negara yang dituju.
”Kami sedang mencari sertifikat asylum seeker (pencari suaka),” tutur Reza. Setelah mendapat sertifikat, mereka mesti menunggu untuk mendapat kartu pengungsi (refugee card). Kemudian, menunggu lagi untuk penentuan negara penempatan.
Tanpa dokumen dan tanda identitas dari UNHCR, para imigran itu bisa dideportasi ke negara asal saat tertangkap operasi kependudukan atau razia orang asing. ”Kami tidak mau kembali ke negara kami karena di sana tidak aman,” ujar Reza yang sudah sejak 2013 berada di Indonesia.
Baca Juga:Densus Tangkap 2 TerorisPengendara Harus Ngebut di Jembatan Cisomang
Beda dengan Amir dan Alizada, Reza dan enam rekannya (Ali Reza, Sayed Ali, Ali Jafari, Rohullah Hassami, Fazil Bakhari, dan Habibullah Panahi) bernasib lebih baik. Untuk sementara, mereka ditampung di rumah milik warga tanpa dipungut biaya. Rumah itu terletak di tengah-tengah permukiman padat.
Mereka menempati dua kamar, masing-masing berukuran 2,5 x 3 meter. Setiap malam empat orang tidur berdesakan di kamar lantai dasar, sedangkan tiga lainnya tidur di lantai atas berdesakan dengan barang-barang.
Di antara imigran Afghanistan itu, Reza paling fasih berbahasa Indonesia. Maklum, dia paling lama tinggal di Indonesia. Tiga tahun. Sebelum di Jakarta, dia menetap di Bogor, menjadi tenaga kerja asing (TKA) ilegal. Karena takut dideportasi, Reza mengurus status pengungsinya di UNHCR pada Oktober lalu. ”Kami datang ke Indonesia dengan cara ilegal, menyusuri hutan biar tidak tertangkap,” ucapnya.
Reza menceritakan perjuangannya hingga sampai di Indonesia. Bersama 13 imigran lain asal Iraq, Iran, dan Pakistan, pemuda berkulit putih itu diangkut mobil dari Afghanistan ke Islamabad, Pakistan, oleh penyelundup (smuggler) pencari suaka. Mata mereka ditutup selama perjalanan darat. Dari Pakistan, mereka menuju Thailand dengan menumpang pesawat. Tentu saja menggunakan paspor palsu yang disiapkan smuggler.
