Temuilah Penderita, Jangan Hanya Donasi

Temuilah Penderita, Jangan Hanya Donasi
F-BAYU PUTRA/JAWA POS
ANAK SURGA: Ratna Eliza (tengah) bersama anak penderita kanker dan relawan di rumah Singgah C-Four di Banda Aceh, beberapa waktu lalu.
0 Komentar

Ratna pun menangis seharian. Dia bahkan sempat menghujat Tuhan yang dianggapnya tidak adil terhadap Airan. Melihat Ratna menangis, sang suami Afrizal bersikap tegas. Afrizal memintanya berhenti membantu anak kanker bila memang tidak kuat. Ratna pun berhenti menangis dan menguatkan diri. Di tengah upayanya menguatkan diri, Annisa juga meninggal. Dia akhirnya down dan vakum beberapa bulan.

Dia kembali berkecimpung dengan kanker setelah mendapati anak tetangganya yang lain asal Bireun menderita kanker. Dia membantu mencarikan tempat tinggal selama di Banda Aceh. Kemudian, muncul lagi pasien lain bernama Rahmat asal Aceh Selatan yang menderita tumor ganas di kaki kanan.

Hingga saat ini, ada sekitar 50 orang anak yang pernah dan sedang ditangani Ratna dan para relawan C-Four. Sebanyak 25 di antaranya telah meninggal dunia. Problem utama dalam membantu pasien kanker adalah pendanaan. Memang, sebagian besar kebutuhan dana sudah ditanggung BPJS Kesehatan.

Baca Juga:Jangan Maunya Kaya SendiriPresiden Pastikan Status Arcandra Klir

Namun, ada bagian lain yang tidak ditanggung. Termasuk biaya hidup selama masa perawatan pasien. Rata-rata anak yang ditangani Ratna berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka tersebar di berbagai daerah di Provinsi Aceh.

Ratna kemudian mencari dana lewat media sosial. Dia menggunakan pendekatan yang sedikit berbeda. Foto-foto pasien ditampilkan dalam akun Facebook miliknya dan C-Four. Harapannya, ada relasi yang berempati dan tergerak membantu. ”Tapi, saya tidak pernah cantumkan nomor rekening. Mereka yang ingin membantu akan langsung inbox (menghubungi secara personal) saya,” tuturnya.

Dari situlah, dia mendapatkan dana untuk membiayai perawatan dan biaya hidup keluarga pasien. Juga, mengontrak sebuah rumah dengan tiga kamar di kawasan Lambhuk, Banda Aceh, yang dijadikan rumah singgah. Pasien kanker anak dari luar Banda Aceh dipersilakan tinggal di rumah singgah selama masa perawatan.

Mencari kontrakan juga bukan pekerjaan mudah. Sebab, tidak semua orang bisa menerima pasien kanker. Suatu ketika dia sudah deal dengan pemilik rumah. Rumah akan digunakan sebagai rumah singgah kanker. Ternyata, tetangga rumah tersebut tahu dan protes ke pemilik rumah. Alasannya, mereka tidak nyaman tinggal dekat pasien kanker. Terpaksa, pemilik rumah pun membatalkan kontrak.

0 Komentar