oleh

Benahi Penjara Perlu Sinergi Penegak Hukum

 

bandungekspres.co.id – Kerusuhan di Rutan Malabero, Bengkulu, yang menewaskan lima narapidana menguatkan pandangan bahwa kondisi penjara saat ini bak api dalam sekam. Polri, Kejaksaan Agung (Kejagung), dan Badan Nasional Narkotika (BNN) perlu bersinergi memadamkan api masalah dalam bui. Sebab, ketiganya turut berperan dalam masalah overkapasitas yang terjadi di 477 lembaga pemasyarakatan (lapas).

Saat ini 181 ribu napi harus berimpit-impitan di 477 lapas dan rutan yang kapasitasnya hanya 118 ribu napi. Kelebihan bebannya mencapai 63 ribu napi.

Baca Juga:  Warna Baru Honda Rebel, Hadir Semakin Ekspresif

Dalam setiap lapas, bisa jadi sel berukuran 20 meter persegi harus diisi puluhan napi. Sempit. Gerah dan susah tidur menjadi keseharian para napi. Situasi itu bisa membuat siapa pun berubah menjadi beringas karena terpicu dengan apa pun masalah yang mengusiknya.

Dirjen Pemasyarakatan Kemenkum HAM I Wayan Kusmiantha Dusak menuturkan, kebetulan di Rutan Bengkulu itu yang mengusik adalah pengambilan seorang penghuni rutan yang bandar narkoba. Tapi, pemicu kericuhan dalam lapas tersebut bisa berasal dari apa pun. ”Pada dasarnya, overkapasitas di lapas memang menjadi problem utama. Overkapasitas ini terjadi di sebagian besar lapas,” tuturnya.

Baca Juga:  Penuhi Persediaan Vaksin Mei, Bio Farma Diminta Tingkatkan Kapasitas Produksi Vaksin

Jumlah narapidana saat ini terus bertambah. Namun, pembangunan lapas dan rutan tidak mungkin mengimbangi. Misalnya, penjara dengan risiko paling tinggi di pulau penjara, Nusakambangan. Di antara tujuh lapas di pulau tersebut, ada dua lapas yang tergolong baru, yakni Pasir Putih dan Narkotika. Lalu, yang baru direnovasi hanya ada dua, yaitu Lapas Batu dan Permisan. ”Lapas Kembangkuning dan Besi belum direnovasi,” paparnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga