Dana mengatakan, dalam membangun proyek tersebut, IAA selalu mengedepankan proses edukasi. Bahkan, program seribu animator Indonesia sudah dicanangkan. Mereka akan dilibatkan dalam proses kreatif dunia animasi ke depan.
Dana punya keyakinan, animator yang bekerja di MD Animation dalam waktu maksimal tujuh tahun harus bisa membuat studio animasi sendiri. ”Empat tahun pertama mereka lewati untuk mencari pengalaman. Tiga tahun berikutnya berturut-turut akan kami ajari entrepreneurship,” terangnya.
Salah satunya adalah bagaimana bekerja sama dengan bank untuk mendapatkan dukungan dana pengerjaan proses kreatif. Selanjutnya, kerja sama berkesinambungan juga diharapkan bisa dijalankan bersama di antara mereka.
Baca Juga:Kita Selesaikan Bandung Juara, Ridwan Kamil Batal Ikut Pilgub DKI148 Anggota PM Tes Urin
”Jadi, nanti pengerjaan tidak harus di Jakarta. Teman-teman di daerah juga bisa bekerja sama secara langsung. Setidaknya kini mulai terlihat seperti yang dijalankan Erix Soekamti, basis band Endank Soekamti, di Jogjakarta,” katanya.
November 2015 Erix membangun sekolah gratis khusus animator yang diberi nama Does University. Program tersebut diakui Erix sebagai bentuk dukungan kepada IAA untuk mewujudkan seribu animator Indonesia. Tujuannya sama, berkolaborasi membuat karya yang bisa dinikmati masyarakat Indonesia. ”Yang mengedukasi anak-anak Indonesia dengan kearifan lokal yang ada,” kata Erix dalam kesempatan terpisah.
Erix sangat berharap IAA bisa menjadi semacam benteng pertahanan terhadap derasnya tayangan asing yang masuk Indonesia. Dana pun sepakat menjadikan IAA sebagai semacam resistor. ”Jika ada tayangan yang tidak mendidik, itu akan kami lawan dengan konten kami,” ucapnya.
Perjuangan tersebut tentu tidak mudah. Sebab, dibutuhkan biaya besar agar tayangan animasi bisa masuk slot TV. Yang membuat Dana optimistis, Indonesia punya segunung animator dengan bakat tinggi. Itu terbukti sejak 1980-an animator Indonesia telah dipercaya untuk bekerja di Jepang atau Amerika Serikat.
Tak terkecuali Dana yang pernah mendapat tawaran pekerjaan menggiurkan di Jepang tahun lalu. ”Kami mendapatkan tawaran bikin animasi porno,” ungkapnya.
Pekerjaan tersebut jelas menawarkan kompensasi uang dalam jumlah besar. Namun, Dana dan IAA menolak tawaran itu. ”Kami tak mau menyesal seumur hidup karena sudah memberikan asupan tayangan negatif buat masyarakat Indonesia,” katanya. (*/c9/ttg/rie)
