Di Tengah Krisis Lahan, Listrik Hidupkan Bisnis Hidroponik dari Rooftop Rumah di Bandung

SEGAR : Kartib Bayu menunjukkan salah satu sayur hidroponik di antara instalasi pipa yang dipacu pompa listrik
SEGAR : Kartib Bayu menunjukkan salah satu sayur hidroponik di antara instalasi pipa yang dipacu pompa listrik di rooftopnya.(HENDRIK/JE)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Mentari belum sepenuhnya meninggi ketika Kartib Bayu mulai menghidupkan saklar di rooftop rumahnya. Gemericik air yang dipompa dengan daya 10 watt itu jadi penanda dimulainya aktivitas di kebun hidroponik di tengah padatnya atap rumah Kota Bandung itu.

Melalui rangkaian pipa yang dialiri air bernutrisi, ribuan lubang tanam menjadi tempat tumbuh pakcoy, kangkung hingga selada. Dari lahan yang tak lebih luas dari 80 meter persegi itu, Bayu bukan sekadar memanen sayuran untuk konsumsi sendiri. Ia juga membangun bisnis pangan segar di tengah penyempitan lahan pertanian kota.

Saat Bandung Kehilangan Lahan Pangan

Kota yang dihuni 2,61 juta jiwa itu kini mengalami salah satu masalah krusial soal pangan. Yakni lahan pertanian di Kota Kembang yang makin menyempit.

Baca Juga:XPENG Resmikan Experience & Service Center ke-11 di Bandung, Hadirkan Layanan 3S TerintegrasiPerkuat Pasokan Energi Nasional, PGN LNG Terima 25 Kargo LNG Hingga Triwulan III 2026

Berdasarkan Open Data Kota Bandung, tercatat lahan pertanian pada 2003 masih di angka 2.104 hektar. Pada 2015 angkanya menyusut hingga tersisa 736 hektar, dan tersisa 641 hektar pada 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat bahwa lahan pertanian tersisa 702 hektar pada 2024 atau sekitar 4 persen dari total luas wilayah.

Lahan pertanian yang kian terkikis itu tentu berdampak pada suplai bahan pangan bagi warga Bandung. Kota yang juga jadi pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat itu sangat bergantung pada pasok bahan pangan dari daerah lain.

Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025-2029 telah mecatat, angka ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar kota mencapai 94,01 persen. Atau kemampuan Kota Bandung dalam memenuhi kebutuhan pangan dari produksi domestik hanya di 5,99 persen. Angka tersebut berdasarkan analisis Neraca Bahan Makanan (NBM) tahun 2024.

Kondisi tersebut juga diakui oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung Gin Gin Ginanjar. “Jadi sekitar 94 persen pangan itu didatangkan dari luar. Tidak hanya beras, hampir semua pangan segar,” jelasnya, saat ditemui di Kecamatan Cibeunying Kidul, Kamis (17/9/2026) lalu.

Di sisi lain, komoditas sayuran juga menjadi salah satu bahan pangan yang rutin dikonsumsi masyarakat. DKPP Kota Bandung sempat menghitung bahwa estimasi kebutuhan komoditas sayur pada 2027 tembus 124,6 kg/kapita/tahun.

0 Komentar