Sementara itu kapasitas produksi dan kebutuhan masyarakat akan sayur di Kota Bandung juga masih timpang. Dokumen Rencana Induk Ketahanan Pangan yang diterbitkan DKPP mencatat ketimpangan itu berdasarkan beberapa komoditas.
Misalnya kebutuhan kangkung warga Bandung pada 2023 ada di angka 61.374,70 kuintal/tahun. Namun kapasitas produksi hanya di 48.116,12 Kuintal. Demikian juga sawi, kebutuhannya di 12.915,20 kuintal per tahun. Namun produksi kota hanya di 789 kuintal.
Menyulap Atap Rumah Menjadi Kebun Produktif
Krisis lahan pertanian itu menjadi salah satu alasan Kartib Bayu melakukan aksi tak biasa terhadap rooftop rumahnya. Rooftop di Jalan Babakan Ciparay itu disulap menjadi ladang sayur hidroponik.
Baca Juga:XPENG Resmikan Experience & Service Center ke-11 di Bandung, Hadirkan Layanan 3S TerintegrasiPerkuat Pasokan Energi Nasional, PGN LNG Terima 25 Kargo LNG Hingga Triwulan III 2026
Mulanya, pria yang tercatat sebagai pengajar di SAPPK ITB itu hanya menanam sayur memanfaatkan beberapa pot. Lalu ia mengenal dan mencoba metode hidroponik. Secara bertahap, rooftop yang dulunya kurang produktif itu kini dipenuhi perangkat pertanian hidroponik.
“Itu dimulai 2020, awalnya tanam sayur di pot. Lalu berkembang ke hidroponik,” jelasnya saat ditemui Jabar Ekspres, Kamis (29/10/2026).
Pria paruh baya itu melanjutkan, metode pertanian hidroponik itu tak dipelajari dari kursus atau bangku kuliah. Namun ia banyak belajar dari berbagai literatur yang gampang diakses.
Ilmu dari belajar mandiri itu kemudian dipraktikkan secara tekun. Serta dari satu rangkaian hidroponik kini juga terus berkembang memenuhi atap. Bahkan teras rumahnya juga ikut menjadi ladang hijau. “Ilmu dan informasi itu banyak dan gampang dipelajari, tapi yang penting itu adalah implementasi dan ketekunan,” sebutnya.
Layaknya petani pada umumnya, budi daya sayur memanfaatkan rangkaian pipa paralon dan air itu juga membutuhkan ketekunan. Itu dimulai dari tahap penyemaian benih, peremajaan bibit, pendewasaan, panen hingga tahap pasca panen.
Di tahap penyemaian butuh ketelitian dalam menghidupkan sebutir benih sayur, pada pendewasaan perlu konsisten mengontrol nutrisi dalam air. Sedangkan tahap pasca panen juga perlu keuletan dalam memasarkan produk yang telah tumbuh segar.
Bayu menjelaskan, metode bertani tanpa tanah itu memiliki beberapa keunggulan dibandingkan pertanian konvensional. Pertama tentu menjadi solusi atas keterbatasan lahan. Karena dapat memanfaatkan lahan-lahan terbatas seperti rooftop. Makanya, metode ini cocok dengan kondisi perkotaan yang tanah makin sempit.
