Di Tengah Krisis Lahan, Listrik Hidupkan Bisnis Hidroponik dari Rooftop Rumah di Bandung

SEGAR : Kartib Bayu menunjukkan salah satu sayur hidroponik di antara instalasi pipa yang dipacu pompa listrik
SEGAR : Kartib Bayu menunjukkan salah satu sayur hidroponik di antara instalasi pipa yang dipacu pompa listrik di rooftopnya.(HENDRIK/JE)
0 Komentar

Pompa Kecil, Peran Besar Listrik

Usaha Bayu kini mulai menunjukkan kesegarannya. Namun yang pasti, ada satu peran penting dalam rantai ekonomi itu. Yaitu peran energi listrik.

Bayu menceritakan, setidaknya ada 3 perangkat pompa hidroponik yang digunakan di rumahnya. Pompa itu memiliki peran penting dalam tumbuh kembang sayuran.

Yaitu bertugas memutar atau menjaga agar air bernutrisi dalam rangkaian pipa hidroponik tetap bersirkulasi. Tanpa pompa itu, proses sirkulasi akan berhenti. Lalu jika proses itu berhenti terlalu lama maka akan menghentikan aliran nutrisi dan oksigen ke akar tanaman. Ujungnya bisa membuat tanaman layu hingga mati.

Baca Juga:XPENG Resmikan Experience & Service Center ke-11 di Bandung, Hadirkan Layanan 3S TerintegrasiPerkuat Pasokan Energi Nasional, PGN LNG Terima 25 Kargo LNG Hingga Triwulan III 2026

“Pernah itu ada kejadian listrik padam cukup lama, jadi kami terpaksa menyirami manual,” katanya.

Hari itu listrik tiba-tiba padam, padahal waktunya menyalakan pompa. Setelah ditunggu beberapa menit ternyata listrik tak kunjung menyala. Bayu dan satu pekerjanya kemudian kerja bakti untuk mensirkulasi air di pipa hidroponik menggunakan gayung.

Menurut Bayu, pompa yang digunakan untuk hidroponik itu sebenarnya juga tidak berdaya besar. Ia menggunakan pompa dengan daya antara 5-10 watt. Jika ditotal ketiga pompa yang digunakan adalah sekitar 30 watt.

Selanjutnya pengeluaran biaya listrik untuk keperluan pompa hidroponik itu juga tidak terlalu besar. Bayu memang belum sampai mencatat secara detail dan khusus pengeluaran biaya listrik untuk usaha hidroponik itu. Namun estimasi hitungan kasarnya, tidak sampai tembus Rp 50 ribu sebulan.

Estimasi penghitungannya adalah sebagai berikut. Total daya pompa 30 watt dengan durasi pemakaian maksimal 24 jam dan daya listrik rumah 3.500 VA. Maka konsumsi listrik per bulannya adalah 21,6 kWh. Lalu estimasi biaya per bulannya adalah Rp 36.710 dengan tarif listrik Rp 1.699,53 / kWh.

Bayu menjelaskan, di rooftop itu memang dipasang lampu. Namun itu tidak berfungsi langsung pada pertumbuhan sayur. Itu hanya untuk penerangan jika sewaktu-waktu perlu ke rooftop pada malam hari. “Yang jelas, ongkos produksi sangat tertutup dengan hasil penjualan,” tegasnya.

Energi untuk Swasembada Pangan

Apa yang dilakukan Bayu memperlihatkan bahwa listrik tidak selalu berujung pada aktivitas rumah tangga. Di tangan warga yang produktif, listrik bisa menjadi peluang ekonomi dan ketahanan pangan, termasuk pertanian di kota. Peluang inilah yang juga menjadi perhatian PLN melalui program Electrifying Agriculture (EA) dan Electrifying Marine (EM).

0 Komentar