BANDUNG – Tingginya pemanfaatan layanan pendanaan digital di Jawa Barat menjadi momentum penting bagi upaya penguatan literasi keuangan masyarakat. Di tengah kemudahan akses pembiayaan, masyarakat diingatkan untuk tidak hanya fokus pada cara memperoleh pinjaman, tetapi juga memastikan keputusan tersebut benar-benar sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan Jawa Barat mencatat outstanding pinjaman daring terbesar di Indonesia, mencapai Rp23,94 triliun per Desember 2025. Angka tersebut mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan pembiayaan sekaligus menegaskan pentingnya edukasi pengelolaan keuangan yang bertanggung jawab.
Direktur Pengembangan Bisnis UATAS, Shintya Maulida, menilai industri pendanaan berbasis teknologi informasi (Pindar) saat ini perlu lebih mengedepankan edukasi dan kesadaran finansial, bukan sekadar mendorong penggunaan layanan pinjaman.
Baca Juga:Jangan Buru-Buru Khawatir, Ini Penjelasan di Balik Bintik Hitam pada Susu BubukCetak Lulusan Adaptif, Universitas INABA Lepas 780 Wisudawan
“Menurut kami, marketing Pindar hari ini, khususnya di Jawa Barat, bukan lagi soal mengajak masyarakat mengakses pinjaman dari UATAS atau platform lain. Yang lebih penting adalah mengajak masyarakat bijak meminjam. Apakah memang ada kebutuhan yang harus dipenuhi? Apakah jumlah yang dipinjam sesuai kebutuhan? Dan yang paling penting, apakah kemampuan pengembaliannya sudah diperhitungkan?” ujar Shintya, Selasa (3/11/2026).
Ia menekankan bahwa keputusan mengambil pembiayaan harus disertai pemahaman menyeluruh terhadap skema yang ditawarkan. Masyarakat perlu mencermati tenor, suku bunga, serta total kewajiban pembayaran agar tidak hanya terpaku pada besarnya dana yang bisa diperoleh.
“Jangan sampai masyarakat hanya melihat berapa besar pinjaman yang bisa didapatkan, tetapi tidak memperhitungkan berapa yang harus dikembalikan dan dalam jangka waktu berapa lama. Memahami skema pembiayaan, termasuk tenor dan suku bunga, merupakan bagian penting dari keputusan finansial yang sehat. Pinjaman seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan, bukan sebaliknya,” tambahnya.
Sebagai wujud komitmen memperluas literasi keuangan, UATAS menggelar rangkaian kegiatan edukatif di Bandung. Aktivitas tersebut mencakup booth interaktif pada Financial Expo (FinExpo) Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 di Trans Studio Mall Bandung, 29 Oktober–1 November 2026.
UATAS juga berinteraksi dengan sejumlah mahasiswa di Bandung untuk memperkenalkan program UATAS Campus Ambassador (UCA). Program ini mendorong generasi muda berperan aktif menyebarluaskan pemahaman literasi keuangan di lingkungan kampus.
