Pemimpin Perempuan di Sekolah Islam: Saya Harus Masuk ke Mana-Mana, Mendengar dan Merekatkan

Menjadi pemimpin di sekolah bukan sekadar menempati posisi paling atas dalam struktur organisasi
Menjadi pemimpin di sekolah bukan sekadar menempati posisi paling atas dalam struktur organisasi
0 Komentar

Ia mengaku tidak selalu dapat melakukan semua hal sebagaimana bayangan ideal seorang ibu. Salah satunya soal pekerjaan rumah tangga.

Baginya, ketika waktu terbatas, ia perlu menentukan prioritas. Ada kalanya waktu untuk memasak atau pekerjaan rumah harus dikurangi agar dapat digunakan untuk membangun quality time bersama anak dan keluarga.

“Pinter-pinternya kita mengelola emosi, mengelola waktu, mengelola waktu istirahat,” tuturnya.

Baca Juga:Bandung Barat Ubah Paradigma Pengelolaan Aset, Dari Sekadar Tercatat Menjadi Bernilai ManfaatPanas Bumi Galunggung Dipromosikan untuk Gaet Investor

Hal serupa juga disampaikan Ridha Sofia, S.S., M.Pd., Kepala SMPIT Al Fitrah. Ia berusaha memisahkan ruang rumah dan sekolah agar persoalan dari satu ruang tidak terlalu banyak terbawa ke ruang lainnya.

Ketika berada di sekolah, ia berusaha fokus menjalankan pekerjaan dan membangun kerja sama dengan tim. Sementara ketika berada di rumah, waktu tersebut digunakan untuk memulihkan energi.

Bagi Ridha, kerja sama tim menjadi salah satu hal yang membuat berbagai tantangan kepemimpinan dapat dihadapi. Ketika hubungan antar personel berjalan baik, persoalan yang berat dapat diselesaikan bersama.

Kepemimpinan perempuan di sekolah juga tidak berarti meniadakan peran laki-laki dalam pendidikan. Para narasumber melihat bahwa kehadiran laki-laki tetap dibutuhkan, salah satunya karena tidak semua anak memperoleh figur ayah secara optimal dalam kehidupan mereka.

Artinya, persoalan kepemimpinan dalam pendidikan tidak semestinya berhenti pada siapa yang memimpin berdasarkan jenis kelamin. Yang lebih penting adalah bagaimana seorang pemimpin mampu menjalankan amanahnya, memahami kebutuhan anak, membangun tim, serta menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat.

Di titik itu, pengalaman para pemimpin perempuan di Al Fitrah memperlihatkan bahwa kepemimpinan sekolah tidak harus dibangun dengan jarak.

Kepala sekolah justru dituntut untuk dekat dengan ruang pembelajaran, memahami persoalan guru dan siswa, berkomunikasi dengan orang tua, serta mengetahui dinamika yang berlangsung di dalam sekolah.

Baca Juga:AQUA DBL Dance Jadi Panggung Anak Muda Ekspresikan Wastra NusantaraKerja ke Jepang Dibuka untuk Perempuan Tasikmalaya, Kuota Hanya 10 Orang

Fidoh bahkan mengakui bahwa dalam menjalankan kepemimpinan, masih ada rasa takut dan keraguan. Namun, keraguan tersebut tidak harus dihadapi seorang diri.

Ketika ada persoalan, ia berdiskusi dengan tim. Dari komunikasi tersebut, sering kali muncul sudut pandang dan jalan keluar yang sebelumnya tidak terlihat.

0 Komentar