Bagi Fidoh, kepala sekolah juga perlu mengambil peran sebagai konselor bagi guru maupun siswa. Ketika muncul persoalan, pemimpin tidak selalu harus menjadi orang yang paling banyak berbicara. Ada kalanya justru perlu memberikan ruang bagi orang lain untuk menyampaikan persoalannya.
Cara tersebut menjadi semakin relevan ketika tantangan sekolah tidak hanya berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar.
Di SDIT Al Fitrah, misalnya, sekolah menghadapi kondisi siswa yang beragam. Latar belakang keluarga, pola pengasuhan dan kondisi psikologis anak dapat memengaruhi perilaku maupun proses belajar mereka.
Baca Juga:Bandung Barat Ubah Paradigma Pengelolaan Aset, Dari Sekadar Tercatat Menjadi Bernilai ManfaatPanas Bumi Galunggung Dipromosikan untuk Gaet Investor
Sekolah pun tidak bisa hanya melihat persoalan dari perilaku yang tampak. Ada kondisi di balik seorang anak yang perlu dipahami bersama, termasuk melalui komunikasi dengan orang tua dan pendampingan dari guru maupun BK.
Situasi tersebut membuat kepemimpinan sekolah tidak bisa berjalan sendirian. Kepala sekolah, guru, BK dan orang tua perlu bekerja bersama untuk mencari penyelesaian.
Hal yang sama juga terlihat dalam persoalan adab dan tanggung jawab siswa. Sekolah menghadapi tantangan ketika terdapat orang tua yang cenderung terlalu melindungi anak, termasuk ketika anak melakukan kesalahan.
Dalam kondisi seperti itu, sekolah tidak hanya membutuhkan aturan, tetapi juga komunikasi. Al Fitrah memiliki wadah POMG sebagai jembatan antara sekolah dan orang tua.
Di tingkat kelas, terdapat koordinator yang membantu meneruskan komunikasi agar persoalan tidak harus selalu disampaikan secara langsung oleh seluruh orang tua kepada sekolah.
Bagi para pemimpin sekolah, pola komunikasi semacam itu merupakan bagian dari kerja pendidikan. Sebab, mendidik anak tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah.
Di sisi lain, menjadi pemimpin perempuan juga membawa tantangan personal tersendiri. Fidoh mengaku, ketika pertama kali diarahkan menjadi kepala sekolah, dirinya justru sempat menolak.
Baca Juga:AQUA DBL Dance Jadi Panggung Anak Muda Ekspresikan Wastra NusantaraKerja ke Jepang Dibuka untuk Perempuan Tasikmalaya, Kuota Hanya 10 Orang
Ia akhirnya menerima posisi tersebut karena memandangnya sebagai amanah. Dalam menjalankannya, dukungan keluarga, terutama suami, menjadi salah satu hal penting baginya.
Fidoh juga merupakan ibu dari tiga anak yang seluruhnya bersekolah di lingkungan Al Fitrah. Kondisi itu membuatnya harus membagi waktu antara tanggung jawab sebagai kepala sekolah dan peran sebagai ibu.
