Pemimpin Perempuan di Sekolah Islam: Saya Harus Masuk ke Mana-Mana, Mendengar dan Merekatkan

Menjadi pemimpin di sekolah bukan sekadar menempati posisi paling atas dalam struktur organisasi
Menjadi pemimpin di sekolah bukan sekadar menempati posisi paling atas dalam struktur organisasi
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Menjadi pemimpin di sekolah bukan sekadar menempati posisi paling atas dalam struktur organisasi. Di tengah persoalan pendidikan yang semakin beragam, kepala sekolah dituntut mampu memahami proses pembelajaran, mendengar persoalan guru dan siswa, membangun komunikasi dengan orang tua, sekaligus menjaga agar seluruh unsur sekolah bergerak dalam arah yang sama.

Di lingkungan sekolah Islam, peran tersebut kini juga banyak dijalankan oleh perempuan. Fenomena itu terlihat di Al Fitrah, tempat kepemimpinan di tingkat SDIT dan SMPIT sama-sama diemban oleh perempuan.

Namun, menariknya bukan semata soal perempuan yang berada di posisi kepala sekolah. Ada cara pandang lain yang muncul dari para pemimpin tersebut tentang bagaimana kepemimpinan seharusnya dijalankan di lingkungan pendidikan.

Baca Juga:Bandung Barat Ubah Paradigma Pengelolaan Aset, Dari Sekadar Tercatat Menjadi Bernilai ManfaatPanas Bumi Galunggung Dipromosikan untuk Gaet Investor

Fidoh Zuhriyah, S.Pd., Gr., Kepala SDIT Al Fitrah, misalnya, menyebut dirinya sebagai pemimpin pembelajaran. Sebutan tersebut bukan sekadar istilah, melainkan menggambarkan bagaimana ia berusaha menjalankan perannya sehari-hari.

Baginya, kepala sekolah tidak seharusnya hanya berada di ruang pimpinan dan menerima laporan. Ia perlu hadir di ruang kelas, mengetahui proses yang berlangsung, mendengarkan guru, mendampingi siswa, serta memahami persoalan yang dihadapi sekolah dari berbagai sisi.

“Kalau saya ketika saya jadi kepala sekolah, saya memposisikan saya adalah pemimpin pembelajaran,” ujar Fidoh.

Karena itu, ia berusaha tidak hanya berada di satu lingkaran. Ia perlu berkomunikasi dengan guru, siswa maupun unsur lain di sekolah.

Hal tersebut menjadi penting karena sekolah merupakan ruang yang diisi oleh banyak karakter. Guru memiliki latar belakang, pengalaman dan cara pandang yang berbeda. Begitu pula siswa dan orang tua.

Seorang pemimpin, menurut Fidoh, harus mampu menjembatani perbedaan tersebut. Ia menyebut dirinya perlu “masuk ke mana-mana” agar dapat memahami berbagai persoalan sekaligus menjaga agar hubungan antarelemen di sekolah tetap terhubung. “Leadership itu merekatkan,” katanya.

Kepemimpinan, dengan demikian, tidak selalu identik dengan kemampuan memberikan instruksi atau mengambil keputusan. Ada pekerjaan lain yang tidak kalah penting, yakni mendengarkan.

0 Komentar