Pemimpin Perempuan di Sekolah Islam: Saya Harus Masuk ke Mana-Mana, Mendengar dan Merekatkan

Menjadi pemimpin di sekolah bukan sekadar menempati posisi paling atas dalam struktur organisasi
Menjadi pemimpin di sekolah bukan sekadar menempati posisi paling atas dalam struktur organisasi
0 Komentar

Karena itu, ia tidak melihat dirinya sebagai satu-satunya orang yang harus mampu menyelesaikan seluruh persoalan sekolah. “Tidak ada Superman,” ujarnya.

Kalimat tersebut sekaligus menjadi gambaran sederhana tentang kepemimpinan yang ia jalankan. Seorang kepala sekolah bukan sosok yang harus mengetahui dan menyelesaikan semuanya sendiri.

Ia adalah bagian dari sebuah tim. Pada akhirnya, menjadi pemimpin perempuan di sekolah Islam bukan hanya tentang menduduki kursi kepala sekolah. Ada proses untuk belajar memimpin diri sendiri, mengelola berbagai peran, mendengar orang lain, merawat kerja sama, dan memastikan setiap unsur sekolah tetap berjalan menuju tujuan pendidikan yang sama.

Baca Juga:Bandung Barat Ubah Paradigma Pengelolaan Aset, Dari Sekadar Tercatat Menjadi Bernilai ManfaatPanas Bumi Galunggung Dipromosikan untuk Gaet Investor

Sebab, dalam pendidikan, pemimpin tidak selalu harus berdiri paling depan. Terkadang, ia justru perlu berada di tengah masuk ke berbagai ruang, mendengar banyak suara, lalu merekatkannya menjadi satu gerak bersama.(Rosyidah)

0 Komentar