JABAR EKSPRES – Beban pekerjaan, persoalan keluarga hingga tekanan kehidupan sehari-hari tak jarang membuat seseorang mengalami stres berkepanjangan. Di tengah kondisi tersebut, kesehatan mental menjadi hal yang tak kalah penting untuk diperhatikan. Namun, keterbatasan biaya masih menjadi salah satu alasan masyarakat enggan mendapatkan bantuan profesional.
Menjawab kebutuhan tersebut, Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Kesehatan menghadirkan BANGBARA atau Bandung Utama Bagja Sararea, layanan konseling psikolog yang dapat dimanfaatkan ASN Pemerintah Kota Bandung maupun masyarakat.
Layanan kesehatan mental gratis ini digelar di Taman Dewi Sartika, Bandung, Kamis 8 Oktober 2026, mulai pukul 08.00 hingga 12.30 WIB.
Baca Juga:68 Bencana Terjadi di Kabupaten Tasikmalaya Sepanjang SeptemberMendag Siapkan Fasilitas Branding untuk 500 UMKM, Dorong Produk Lokal Naik Kelas
Melalui BANGBARA, masyarakat dapat berkonsultasi mengenai berbagai persoalan, mulai dari masalah pernikahan, relasi, pengelolaan emosi, hingga burnout yang muncul akibat tekanan pekerjaan maupun akademik.
Sejak pagi, sejumlah warga terlihat mendatangi lokasi untuk mendapatkan layanan konseling. Salah satunya Dimas Wicaksono (27).
Di usianya yang masih muda, Dimas mengaku membutuhkan bantuan profesional karena telah mengalami anxiety selama sekitar tiga tahun. Sebelumnya, ia sempat menjalani konseling dengan psikolog, tetapi harus berhenti karena terkendala biaya.
“Dari tahun 2024 saya mengidap anxiety, sebelumnya saya pernah konseling ke psikolog, namun karena biayanya yang cukup tinggi jadi tidak lanjut lagi,” ujar Dimas kepada Jabar Ekspres usai mengikuti layanan konseling BANGBARA.
Menurut Dimas, kehadiran layanan kesehatan mental gratis seperti BANGBARA sangat membantu masyarakat yang membutuhkan konsultasi tetapi memiliki keterbatasan biaya.
“Alhamdulillah, dengan adanya layanan gratis kesehatan mental ini saya bisa konsultasi lagi. Soalnya kalau ke dokter psikolog makan biaya yang cukup besar, jadi dulu sempat gak dilanjut lagi,” ungkapnya.
Dimas mengatakan, kondisi yang dialaminya tidak terlepas dari tekanan kehidupan sehari-hari, terutama ketika masih bekerja di sebuah instansi swasta. Tekanan pekerjaan dan persoalan ekonomi membuat pikirannya terus bekerja bahkan hingga malam hari.
Baca Juga:Danantara Investasi 250 Juta Dolar AS di Perusahaan Migas AS HighPeak EnergyMemilih Laptop Menjadi Investasi Jangka Panjang, Axioo dengan Perlindungan Axioo ADP XTRA hingga 3 Tahun
Kondisi tersebut kemudian berdampak pada kualitas tidurnya. Ia mengaku kerap memikirkan pekerjaan secara berlebihan hingga kesulitan mendapatkan tidur yang nyenyak.
“Sebenarnya dulu waktu masih kerja di instansi swasta ya sangat under pressure, jadi terkadang terbiasa memikirkan sesuatu pekerjaan sampai larut malam sampai saya nggak bisa tidur nyenyak, apalagi saya orangnya itu memang sedikit-sedikit selalu dipikirin gitu,” akunya.
