JABAR EKSPRES – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Barat (KBB) mencatat kenaikan partikulat PM2,5 dan PM10 setelah sejumlah wilayah dilaporkan terdampak paparan debu yang diduga berasal dari aktivitas vulkanik.
Kenaikan tersebut terpantau melalui Stasiun Air Quality Monitoring System (AQMS) yang berada di Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Bandung Barat.
Alat ini melakukan pemantauan kualitas udara secara real-time dengan mengukur sejumlah parameter, termasuk PM2,5, PM10, sulfur dioksida (SO2), karbon monoksida (CO), ozon (O3), nitrogen dioksida (NO2), hingga hidrokarbon (HC).
Baca Juga:Imbas Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Meluas, 14 Penerbangan di Bandara Husein Sastranegara Dibatalkan Tips Melindungi AC Mobil dari Paparan Abu Vulkanik Erupsi Gunung Anak Krakatau
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH KBB, Gentarez Wara Nainggolan, mengatakan peningkatan partikulat memang terlihat dalam hasil pemantauan terbaru. Namun, berdasarkan pengukuran hingga Senin (7/9/2026), kondisi kualitas udara secara umum masih berada pada kategori baik.
“Kalau melihat hasil pemantauan hari ini memang ada kenaikan pada PM2,5 dan PM10. Tetapi secara keseluruhan kualitas udara masih tergolong baik,” ujar Genta saat dikonfirmasi, Senin (7/9/2026).
Hingga pukul 11.00 WIB, konsentrasi PM2,5 tercatat sekitar 40 mikrogram per meter kubik. Meski belum mencapai kategori sedang, DLH tetap melakukan pengawasan untuk melihat perkembangan konsentrasi partikulat.
Genta mengatakan perubahan kualitas udara perlu diantisipasi karena konsentrasi partikulat dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer dan arah pergerakan angin.
“Angkanya masih aman, tetapi pemantauan tetap kami tingkatkan. Kami ingin melihat apakah dalam beberapa waktu ke depan terjadi perubahan yang signifikan atau tidak,” katanya.
Kenaikan partikulat juga beriringan dengan laporan warga di sejumlah kawasan KBB yang menemukan debu menempel di halaman rumah dan permukaan benda lainnya.
Secara visual, debu tersebut terlihat berwarna cokelat muda hingga keabu-abuan. Kondisi itu membuat DLH menduga material yang muncul memiliki karakteristik berbeda dari debu yang umumnya berasal dari aktivitas kendaraan maupun jalan.
Baca Juga:Sertifikasi Jadi Kunci Koperasi Indonesia Tembus Pasar EksporImplementasi Teknologi Tepat Guna ITB Atasi Persoalan Sampah di Bandung
“Partikel yang terpantau memang mengalami peningkatan dan laporan dari masyarakat juga mengarah pada adanya debu di beberapa wilayah. Secara visual, karakteristiknya mengarah ke material vulkanik,” jelasnya.
Meski demikian, DLH KBB belum bisa memastikan sumber debu tersebut secara ilmiah. Sampel material belum melalui pemeriksaan laboratorium sehingga belum dapat dipastikan seluruhnya merupakan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau.
