Siswa Masih Andalkan Rakit, Jembatan Apung Jadi Opsi Pemda KBB

Siswa Masih Andalkan Rakit, Jembatan Apung Jadi Opsi Pemda KBB
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail saat mencoba rakit yang digunakan para siswa saat berangkat sekolah. Dok Prokompim KBB
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB) tengah mengkaji sejumlah alternatif untuk mengatasi persoalan akses siswa di kawasan Waduk Saguling, Kecamatan Cililin.

Salah satu opsi yang dipertimbangkan yakni pembangunan jembatan apung.

Langkah tersebut dilakukan setelah Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail bersama dinas terkait turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi akses yang selama ini digunakan sejumlah siswa menuju sekolah.

Jeje mengatakan, berdasarkan hasil kajian teknis Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) KBB, bentang yang harus dilintasi untuk menghubungkan akses tersebut mencapai sekitar 280 meter.

Baca Juga:Perkuat Keandalan Jaringan, PLN Icon Plus SBU Regional Jawa Barat Laksanakan P3AK di Bandung SelatanPemkab Bandung Barat Prioritaskan Rehabilitasi 182 Ruang Kelas SD dan SMP

“Dengan kondisi itu, pembangunan jembatan gantung sepertinya tidak memungkinkan. Kami mempertimbangkan jembatan apung sebagai salah satu alternatif solusi jangka panjang,” ujar Jeje, Selasa (1/9/2026).

Kendati demikian, Jeje menyebut pembangunan jembatan apung diperkirakan membutuhkan anggaran cukup besar. Karena itu, Pemkab KBB masih melakukan kajian lebih lanjut, baik dari sisi teknis maupun pembiayaan.

“Sementara untuk penanganan jangka pendek, kami menyiapkan alternatif transportasi berupa mobil antarjemput bagi sekitar 16 siswa yang selama ini menggunakan rakit untuk berangkat dan pulang sekolah,” katanya.

Menurutnya, seluruh alternatif tersebut masih dalam tahap kajian dan akan dikoordinasikan dengan pihak terkait untuk menentukan solusi yang paling memungkinkan diterapkan.

“Semua opsi kita kaji. Untuk jangka panjang kita melihat kemungkinan pembangunan akses yang lebih permanen, sementara untuk langkah cepat kita siapkan alternatif transportasi bagi anak-anak,” katanya.

Hasil kajian teknis dan sejumlah alternatif penanganan tersebut selanjutnya akan dilaporkan kepada Gubernur Jawa Barat untuk mendapatkan arahan.

“Kami memastikan persoalan akses siswa tersebut akan ditindaklanjuti. Keselamatan dan kemudahan siswa dalam menempuh pendidikan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan solusi,” pungkasnya. (Wit)

0 Komentar