BANDUNG –Kelompok Keilmuan Bioteknologi Mikroba Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar Pelatihan Terpadu Aplikasi Bioteknologi Mikroba untuk Kemandirian Pangan dan Lingkungan Keberlanjutan. Kegiatan ini khusus ditujukan bagi peserta Masa Persiapan Pensiun (MPP) ITB dalam rangkaian Workshop Jatifest di Kampus ITB Jatinangor, Minggu (30/8/2026).
Ketua Kelompok Keilmuan Bioteknologi Mikroba SITH ITB, Prof. Pingkan Aditiawati, MS, menjelaskan bahwa pelatihan semacam ini menjadi bagian rutin pengabdian masyarakat setiap semester. “Setiap semester kita harus melakukan pengabdian pada masyarakat. Yang paling rutin dilakukan adalah memberikan bekal kepada pegawai ITB yang akan pensiun. Biasanya setiap tahun kami menyelenggarakan beberapa pelatihan berdasarkan hasil penelitian kami,” katanya kepada Jabar Ekspres di sela-sela acara.
Peserta yang mengikuti kegiatan ini berkisar 30–40 orang. Seluruh biaya ditanggung panitia sehingga peserta tinggal datang dan belajar. Harapannya, setelah pensiun mereka mampu mengembangkan produk-produk yang diajarkan. “Mereka biasanya juga menanyakan mata kuliah tertentu. Misalnya sekarang ada pelatihan membuat makanan fermentasi seperti kimchi yang banyak diminati pegawai perempuan. Ada juga budidaya jamur dan ikan,” jelas Prof Pingkan.
Baca Juga:Muktamar NU Bukan Pasar Suara: Jangan Biarkan Risywah Berpindah ke AhwaMenghentikan Aliran Risywah di Muktamar NU: Menjaga Hati Nurani, Marwah Jam’iyah, dan Masa Depan Organisasi
Selain keterampilan produksi pangan, pelatihan selalu mencakup pengelolaan sampah rumah tangga dengan metode Takakura. “Kami membuka agar sisa dapur tidak dibuang, melainkan diolah menjadi kompos untuk tanaman. Di setiap pelatihan pasti ada bahan mengatasi sampah organik. Mudah-mudahan nanti semua pegawai bisa mengelola sampah di rumah masing-masing,” katanya.
Menurutnya, cara terbaik mengelola sampah organik di rumah adalah mengolah bekas makanan dan masakan sendiri. “Yang membuang cukup plastik dan kertas. Dengan satu wadah seukuran bara api, sudah cukup untuk satu rumah tangga. Hasilnya bisa dipakai sebagai pupuk secara berkelanjutan,” tegasnya.
Prof Pingkan menambahkan, pengabdian masyarakat SITH ITB biasanya menyasar desa-desa di Jawa Barat, bahkan daerah 3T seperti NTT, untuk mengatasi stunting, kualitas udara, dan produksi ikan. Namun, warga ITB sendiri tak boleh dilupakan. “Saat ini kami selalu menyertakan pelatihan khusus untuk warga ITB setiap tahunnya. Tidak hanya pegawai, mahasiswa juga dilibatkan,” ujarnya.
