JABAR EKSPRES – Kasus kekerasan hingga eksploitasi pada anak di wilayah Jawa Barat, hingga kini masih menunjukkan tren signifikan. Bahkan menurut Kepala UPTD PPA Provinsi Jawa Barat, Imas Sulyani, berdasarkan data yang diberikannya, sepanjang tahun 2025 kemarin untuk kasus tersebut mencapai hingga sebayak 454.
“(Sedangkan) Di tahun 2026 ini, baru sampai bulan April saja sudah 197 kasus (kekerasan). Kemudian korban eksploitasinya, di 2025 kita ada 27 kasus, tapi di 2026 baru sampai bulan April saja itu sudah 26 kasus. Berarti kan nanti ada kemungkinan meningkat,” ucapnya, saat ditemui di Mapolda Jabar, Senin, (31/8/2026).
Menurut data yang disampaikannya, Imas menyebut kasus kekerasan hingga eksploitasi yang telah tercatat tersebut, sebagian besar terjadi di lingkungan terdekat atau sekitar korban.
Baca Juga:Anak 7 Tahun Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual, LBH PUI Desak Penanganan SeriusPemkab Bogor Perkuat Satgas PPA hingga Desa, Percepat Deteksi Kasus Kekerasan Seksual
“Untuk kekerasan terhadap anak itu orang yang ada di lingkungan sekitar, baik itu orang terdekat maupun orang lain. Sehingga di sini mungkin keluarga terutama yang menjadi pondasi harus bisa betul-betul hadir untuk anak-anaknya, untuk bisa melindungi dan mengayomi, menjadi penopang untuk anaknya,” ungkapnya.
Maka agar kasus-kasus tersebut tidak semakin bertambah dan berulang, Imas mengaku bahwa pihaknya akan terus melakukan berbagai upaya untuk melindungi anak-anak di Jawa Barat dari segala bentuk tindakan kekerasan maupun eksploitasi.
“Kita akan terus mengedukasi, memberikan sosialisasi, dan menciptakan program-program yang bisa dipahami dan diimplementasikan oleh masyarakat,” ujarnya.
“(Karena) di sini juga diperlukanlah peran aktif dari seluruh jajaran, baik itu pemerintah, swasta, maupun masyarakat. Kita tidak bisa secara parsial bekerja sendiri-sendiri, tetapi memang harus kolaboratif. Seluruh jajaran, seluruh elemen di sini harus peduli. Karena anak itu merupakan aset negara kita,” pungkasnya. (San)
