Hutan dan Lahan Kritis
Maulana menilai, ancaman ekologis Jawa Barat juga semakin serius dengan menyusutnya tutupan hutan hingga 43 persen, serta sekira 900 ribu hektare lahan kritis.
“Angka ini bukan sekadar statistik lingkungan. Ia adalah peringatan,” katanya.
Jika kerusakan ekologis terus dibiarkan, tutur Erwin, Jawa Barat bukan hanya menghadapi banjir dan longsor hari ini, tapi juga berpotensi menghadapi krisis ekologis yang lebih besar sebagaimana yang kini terjadi di sejumlah wilayah Aceh dan Sumatera.
Bukan Tidak Boleh Membantu, Tetapi Jangan Lupa Amanat
“Bapak Gubernur, para pekerja sosial, petugas lapangan, BPBD, relawan, dan masyarakat di berbagai daerah telah bekerja semaksimal mungkin. Mereka tidak kekurangan keberanian,” terang Maulana.
Baca Juga:Tiga Ruas Jalan Rampung, Bupati Cecep: Mudah-mudahan Tak Ada Lagi Mobil TerperosokKapolres Tasikmalaya Ajak Personel Teladani Akhlak Rasulullah dalam Melayani Masyarakat
“Yang mereka butuhkan adalah komitmen anggaran, kebijakan yang konsisten, penegakan hukum lingkungan yang tegas, serta skala prioritas yang berpihak kepada warga Jawa Barat sendiri,” lanjutnya.
Menurut Maulana, dalam hal ini persoalannya bukan apakah membantu korban bencana di luar Jawa Barat itu baik atau buruk. Sebab membantu sesama itu jelas hal yang baik.
Akan tetapi, sambungnya, terdapat perbedaan besar antara kebaikan pribadi dan kewajiban jabatan.
Disampaikan Maulana, sebagai personal diri, tentu Dedi Mulyadi memiliki kebebasan untuk membantu sesama di mana pun dan kepada siapa pun.
Akan tetapi, sebagai Gubernur Jabar, ada amanat, kewenangan, anggaran, dan tanggung jawab yang melekat pada jabatan itu.
“Karena itu, ketika Jawa Barat sendiri masih menghadapi permasalahan, maka wajar jika publik bertanya. Apakah prioritas pemerintah daerah sudah berada di tempat yang semestinya?,” ujar Maulana.
“Bapak Gubernur, membantu tetangga adalah kebaikan. Tetapi jika rumah sendiri masih bocor, dapurnya belum beres, anak-anaknya belum terurus, dan halaman rumahnya mulai longsor, tentu ada baiknya pekerjaan rumah sendiri diselesaikan terlebih dahulu,” lanjutnya.
Baca Juga:Bupati Tasikmalaya Apresiasi Dua Pelajar Peraih Medali O2SN Nasional 2026, Buah Perjuangan dari Tingkat DaerahLeuwikeris Jadi Etalase Wisata dan UMKM Tasikmalaya di Jambore Nasional Overlanding Indonesia 2026
Maulana menegaskan, dalam hal ini bukan artinya kita sebagai sesama manusia harus menutup mata terhadap penderitaan daerah lain.
Akan tetapi, jangan sampai terlalu sibuk memperbaiki rumah orang lain, sedangkan rumah sendiri lupa untuk diperbaiki.
“Sebab amanat utama Bapak bukan berada di Aceh. Bukan di NTT. Bukan pula di daerah lain. Amanat itu berada di Jawa Barat,” tegasnya.
