JABAR EKSPRES – Membentuk karakter anak sejak usia dini tidak cukup dilakukan melalui pembelajaran di dalam kelas.
Dibutuhkan pembiasaan, pendekatan yang sesuai dengan karakter masing-masing anak, serta kolaborasi yang kuat antara sekolah dan keluarga.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan yang dikembangkan TKIT Al-Fatwa.
Baca Juga:Tim Mahasiswa PKM-PM Universitas Bhakti Kencana Hadirkan Inovasi Board Game SociaGo di SLB C Karya BhaktiBPNT Tahap 3 2026 Mulai Disalurkan, Ini Cara Cek Penerima Lewat NIK KTP
Sekolah tidak hanya menekankan pengenalan kemampuan akademik, tetapi juga memberikan perhatian terhadap nilai keagamaan, kemandirian, kreativitas, literasi, serta perkembangan sosial emosional anak.
Melalui visi “Terwujudnya Generasi Qur’ani yang Cerdas, Ceria, Mandiri, Kreatif, dan Berakhlak Mulia,” TKIT Al-Fatwa berupaya menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan sekaligus memberikan ruang bagi setiap anak untuk berkembang sesuai tahap dan keunikannya.
Program pendidikan tersebut diwujudkan melalui pembelajaran terpadu berbasis nilai Islam, pembiasaan akhlakul karimah, pengembangan karakter, literasi anak, kreativitas dan seni, outing class, hingga program parenting dan kolaborasi bersama orang tua.
Al-Qur’an Dikenalkan melalui Pembiasaan Sehari-hari
Nilai keimanan dan ketakwaan menjadi salah satu fondasi pendidikan di TKIT Al-Fatwa.
Anak dibiasakan mengenal surat-surat pendek Al-Qur’an, doa-doa harian, hadis pilihan, tata cara wudhu dan shalat, serta adab dan akhlakul karimah.
Pembiasaan dilakukan secara bertahap agar nilai agama tidak sekadar menjadi hafalan, tetapi perlahan menjadi bagian dari perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan penguatan pendidikan Al-Qur’an yang dikembangkan di lingkungan Al-Fatwa secara keseluruhan.
Baca Juga:Cara Cek Desil dengan NIK KTP, Lihat Status Kesejahteraan Keluarga Disini1.300 Dapur MBG Ditutup BGN, Ini Penyebabnya
Dalam wawancara, salah seorang pendidik menjelaskan bahwa kedekatan dengan Al-Qur’an dibangun melalui rutinitas yang dilakukan secara konsisten.
“Setiap hari ada pembiasaan shalat dhuha, kemudian pembiasaan Asmaulhusna dan literasi. Untuk shalat dhuha sendiri dilakukan setiap hari,” ujarnya.
Pembiasaan tersebut menjadi bagian dari rutinitas sekolah yang dirancang agar anak mengenal praktik keagamaan secara natural sejak usia dini.
Pendekatan Personal Menjadi Kunci Memahami Anak
Salah satu tantangan dalam pendidikan anak usia dini adalah menghadapi karakter peserta didik yang beragam.
Tidak semua anak dapat menerima instruksi dengan cara yang sama.
