Ada anak yang mudah berkomunikasi, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman dan berani mengekspresikan dirinya.
Karena itu, guru TKIT Al-Fatwa mengedepankan pendekatan personal dalam mendampingi anak.
“Kalau anak TK, kita tidak bisa memberikan perintah secara langsung. Kita harus ngobrol dulu, mencari bahasa yang nyambung dengan apa yang dipahami anak,” kata salah seorang guru.
Baca Juga:Tim Mahasiswa PKM-PM Universitas Bhakti Kencana Hadirkan Inovasi Board Game SociaGo di SLB C Karya BhaktiBPNT Tahap 3 2026 Mulai Disalurkan, Ini Cara Cek Penerima Lewat NIK KTP
Menurutnya, guru juga perlu mengikuti ketertarikan anak sebagai pintu masuk sebelum mengarahkannya kembali kepada kegiatan pembelajaran.
“Kadang anak tidak mau mengikuti kegiatan. Kita cari tahu dulu kenapa. Bisa jadi dia sedang tertarik dengan gambar tertentu. Kita ikuti dulu rasa penasarannya, setelah itu baru diarahkan untuk mencoba,” tuturnya.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa proses pembelajaran pada usia dini membutuhkan kesabaran dan kemampuan guru membaca kondisi emosional anak.
Tiga Bulan Belum Berbicara, Kemudian Menunjukkan Kemampuannya
Pengalaman salah seorang guru menjadi gambaran nyata mengenai pentingnya memberikan waktu kepada anak untuk berkembang sesuai ritmenya.
Ia menceritakan seorang siswa yang selama kurang lebih tiga bulan belum berbicara ketika berada di lingkungan sekolah.
Meski demikian, anak tersebut tetap mengikuti pembelajaran dan terlihat memperhatikan berbagai kegiatan yang diberikan.
“Selama tiga bulan dia tidak berbicara. Tapi sebenarnya dia tetap mengikuti, mengamati, dan menerima apa yang disampaikan,” ujarnya.
Baca Juga:Cara Cek Desil dengan NIK KTP, Lihat Status Kesejahteraan Keluarga Disini1.300 Dapur MBG Ditutup BGN, Ini Penyebabnya
Guru pun tetap memberikan stimulasi dan pembiasaan tanpa memaksa anak untuk segera berbicara.
Hingga suatu ketika, dalam kegiatan bernyanyi, anak tersebut diminta untuk memimpin lagu.
Respons yang muncul justru di luar dugaan.
“Tiba-tiba dia bernyanyi dengan lancar. Semua lagu yang diajarkan ternyata dia hafal. Hafalan hadis dan surat juga ternyata dia ingat,” kata guru tersebut.
Pengalaman itu menjadi salah satu momen penting bagi guru karena menunjukkan bahwa anak yang terlihat diam belum tentu tidak memahami pembelajaran.
“Sebagai guru, kami merasa Alhamdulillah. Ternyata selama ini apa yang kami sampaikan benar-benar terekam. Dia hanya membutuhkan waktu sampai akhirnya berani mengungkapkannya,” ujarnya.
