Pembiasaan di Sekolah Diharapkan Terbawa ke Rumah
Program pembiasaan yang diterapkan di sekolah juga dirasakan oleh orang tua siswa.
Perwakilan orang tua siswa, Siti Nurhandayani, menilai terdapat perubahan karakter anak setelah mengikuti berbagai pembiasaan di sekolah.
“Perubahan karakter anak sangat terasa di rumah. Pembiasaan seperti Gerakan BATIK (membawa tempat makan/minum sendiri) dan pembatasan uang jajan melatih anak-anak kami untuk lebih disiplin, peduli lingkungan, dan belajar hidup hemat.”
Baca Juga:Masihkah Republik Ini Milik Rakyat?Tevis Foundation Gelar Pelatihan Gratis untuk Guru Ngaji dan Madrasah di Kabupaten Bandung
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter yang diterapkan sekolah diharapkan tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi dapat terbawa ke kehidupan sehari-hari di rumah.
Literasi dan Al-Qur’an sebagai Pembiasaan
Pengembangan literasi dan pendidikan Al-Qur’an di Al-Fatwa pada akhirnya memiliki titik temu yang sama, yakni membangun kebiasaan.
Literasi diarahkan agar anak terbiasa membaca, memahami, dan menceritakan kembali informasi. Sementara program Al-Qur’an dibangun melalui rutinitas membaca, menghafal, murajaah, dan setoran yang dilakukan secara konsisten.
Pendekatan pembiasaan tersebut menjadi salah satu cara sekolah membangun karakter peserta didik sejak dini, sejalan dengan nilai utama Al-Fatwa yang mencakup iman dan takwa, akhlak mulia, ilmu dan prestasi, kreativitas, kolaborasi, serta kepedulian.
Tidak hanya dalam bidang keagamaan, SD Plus Al-Fatwa juga mencatat sejumlah prestasi di bidang akademik maupun nonakademik, mulai dari tahfidz, matematika, kaligrafi, hingga olahraga, seni, robotik, dan literasi menulis.
Bagi Al-Fatwa, pendidikan dengan demikian tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan siswa yang mampu mencapai prestasi akademik, tetapi juga anak yang memiliki kebiasaan membaca, dekat dengan Al-Qur’an, berkarakter, dan mampu membawa pembiasaan tersebut ke kehidupan sehari-hari. (**)
