Pipit menambahkan, keberadaan jembatan juga mempermudah warga ketika harus mengakses tempat pemakaman umum yang berada di sisi lain wilayah tersebut.
Sebelumnya, warga harus memutar cukup jauh ketika hendak mengantar jenazah karena akses sungai tidak memungkinkan untuk dilalui.
Sementara itu, Kapolresta Bandung Kombes Pol Aldi Subartono mengatakan pembangunan Jembatan Merah Putih tersebut bermula dari aspirasi warga yang diterima melalui Bhabinkamtibmas ketika melakukan kegiatan sambang.
Baca Juga:Proyek Pembangunan Underpass Gatsu dan Pemeliharaan Jembatan di Cimahi Digulirkan, Pemkot Soroti IniPembangunan Underpass dan Jembatan Pemkot Dimulai, Wali Kota Cimahi Minta ASN Atur Waktu Berangkat
Dari hasil pemantauan, jembatan bambu yang sebelumnya digunakan masyarakat dinilai sudah tidak layak dan berisiko membahayakan keselamatan warga.
“Dulunya jembatan ini adalah bambu. Ini menghubungkan dua desa dan dua kecamatan yang digunakan oleh anak-anak kita, baik untuk sekolah ataupun mengaji, dan kondisinya sangat memprihatinkan,” ujar Aldi.
Pembangunan jembatan kemudian dilakukan melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, TNI, Polri, serta unsur Forkopimcam Cicalengka dan Rancaekek. Proses pembangunannya berlangsung hampir dua bulan.
“Alhamdulillah ini hasil swadaya masyarakat. Kerja sama dan kolaborasi semuanya, sehingga jembatan ini berhasil kita bangun,” katanya.
Jembatan yang kini menggunakan konstruksi cor beton dan besi tersebut diharapkan mampu memperlancar aktivitas warga sekaligus meningkatkan keamanan saat melintas.
“Manfaatnya sangat banyak. Harapannya ini bisa membantu masyarakat untuk memudahkan aktivitas, apakah itu sekolah, kemudian berangkat kerja dan sebagainya,” tutur Aldi.
Bagi warga, perubahan akses tersebut dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Aceng, Ketua RW 10 Desa Nanjung Mekar, mengatakan jembatan bambu sebelumnya kerap membuat warga khawatir, terutama ketika hujan dan debit air meningkat.
Baca Juga:Pembangunan Underpass dan Perbaikan Jembatan Ubah Arus Lalu Lintas di Cimahi, Ini Jalur PengalihannyaMeredam Bisingnya Dunia di Bawah Jembatan Alun-alun Kota Bandung: Film "Dan Bandung" Rilis Special Clip
“Dulu kan jembatannya dari bambu. Bahkan ketika ada anak-anak yang melintas, apalagi sudah banjir, takut karena licin. Dan juga ibu-ibu yang mau ngaji merasa tidak nyaman. Takut jatuh,” ujar Aceng.
Dengan jembatan permanen, ia menyebut aktivitas warga kini menjadi jauh lebih mudah. Anak-anak dapat berangkat sekolah, karyawan menuju tempat kerja, sementara warga yang hendak mengaji juga tidak lagi harus khawatir melewati jembatan bambu.
“Alhamdulillah dengan dibangunnya jembatan seperti ini, jembatan yang kokoh, alhamdulillah pendidikan anak-anak sekolah lancar. Karyawan juga yang mau kerja lancar, ibu-ibu yang mau ngaji juga alhamdulillah,” katanya.
